SEMARANG, obyekti.tv – Malam Lawang Sewu terasa berbeda pada Sabtu (13/9/2025). Ribuan penonton larut dalam nostalgia saat KLa Project naik ke panggung utama Soearaloka – Road to Anniversary 37th. Katon Bagaskara bersama Romulo “Lilo” Radjadin dan Adi Adrian membawakan deretan lagu hits yang pernah mewarnai perjalanan musik Indonesia.
Lagu-lagu seperti Satu Kayuh Berdua, Menjemput Impian, Belahan Jiwa, Terpuruk Ku di Sini, hingga Yogyakarta sukses membangkitkan kenangan manis para penggemarnya. Paduan vokal Katon dan Lilo, ditopang permainan piano khas Adi Adrian, menjadi magnet utama yang membuat suasana semakin hangat. Sorak-sorai penonton yang ikut bernyanyi menegaskan bahwa band legendaris ini masih memiliki tempat istimewa di hati penggemarnya.
Direktur Utama KAI Wisata, Hendy Helmy, menegaskan bahwa konser ini merupakan hasil persiapan panjang.
“Konsep ini sudah lama kami rancang. Setelah tertunda, akhirnya pada 13 September bisa terealisasi. Kami melakukan banyak survei dan melihat animo masyarakat Semarang, hingga akhirnya memilih KLa Project sebagai bintang tamu utama Soearaloka,” ujarnya dalam konferensi pers.
Hendy menambahkan, Lawang Sewu dipilih bukan hanya karena ikonik, tetapi juga sebagai upaya mengangkat Semarang sebagai kota heritage dengan daya tarik wisata budaya.
“Kami ingin Lawang Sewu menjadi pusat kegiatan seni. Ke depan, kami berencana membuat agenda konser rutin setiap tiga bulan sekali, bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan masyarakat Semarang. Harapannya tidak hanya menarik warga lokal, tapi juga wisatawan dari Jakarta, Surabaya, maupun Yogyakarta,” jelasnya.

Selain KLa Project, panggung Soearaloka juga diramaikan oleh Jikustik. Band asal Yogyakarta ini membuka penampilan dengan sederet lagu populernya seperti Pandangi Langit Malam Ini, Saat Kau Tak di Sini, Aku Bukan Untukmu, Takkan Berpaling Dari-Mu, Puisi, hingga Selamat Malam Dunia. Interaksi sang vokalis Icha Aji Mirza Hakim dengan penonton membuat suasana semakin cair dan tanpa jarak.
Sebelumnya, beberapa band lokal juga turut memanaskan panggung, menjadi pembuka yang layak sebelum dua nama besar tampil. Antusiasme penonton membuktikan bahwa Semarang tak hanya kaya akan warisan budaya, tetapi juga siap menjadi destinasi musik berskala nasional. ***










