YOGYAKARTA, obyektif.tv — Akademisi Rocky Gerung mengajak generasi muda Indonesia untuk menyiapkan diri menghadapi tantangan global dengan membangun kapasitas intelektual dan kesadaran lingkungan, bukan sekadar mengejar popularitas atau elektabilitas.
Hal itu disampaikan Rocky dalam Talkshow Sumpah Pemuda pada gelaran Merah Muda Fest yang digagas DPP PDI Perjuangan di GOR Amongrogo, Yogyakarta, Sabtu (1/11/2025). Acara bertema “Merah Berani, Muda Beraksi” itu juga menghadirkan Puteri Indonesia Lingkungan 2020 Putu Ayu Saraswati dan politisi PDIP Adian Napitupulu sebagai narasumber.
Dalam pandangannya, generasi muda Indonesia perlu memahami tiga isu utama dunia menjelang era 2029, yakni keamanan global, etika lingkungan, dan solidaritas kemanusiaan.
“Kita masuk ke era 2029 dan harus mampu berhadapan dengan tiga isu utama dunia. Di mana pun Anda pergi, anak muda berbicara tentang global security dan keberlanjutan bumi,” kata Rocky.
Rocky mengingatkan bahwa dunia masih lebih banyak berinvestasi pada militer ketimbang perdamaian. Ia mencontohkan, anggaran perdamaian dunia yang dikelola PBB hanya sekitar 8 miliar dolar AS, jauh tertinggal dibandingkan belanja militer global yang mencapai ribuan kali lipat.
“Logikanya sederhana, kalau dana perdamaian kalah jauh dari dana militer, maka perang pasti terjadi. Indonesia juga berada dalam dilema itu. Kita ingin damai, tapi anggaran militer terus naik,” ujarnya.
Menurutnya, Asia Tenggara justru seharusnya menjadi masa depan planet bumi karena memiliki energi, sumber daya manusia, dan potensi kemanusiaan yang tinggi.
Rocky juga mengutip pandangan Presiden Soekarno yang menilai hutan sebagai elemen pertahanan semesta sekaligus sumber kehidupan dunia.
“Bung Karno sudah melihat hutan bukan sekadar paru-paru dunia, tapi juga benteng pertahanan. Kalau kita merawat hutan, kita sekaligus merawat apotek dunia dan perdamaian dunia,” tegasnya.
Ia menutup pesannya dengan ajakan agar pemuda Indonesia membangun intelektualitas, etika lingkungan, dan solidaritas manusia global.
“Belajarlah tentang lingkungan, supaya Anda punya peralatan untuk bertengkar dengan mereka yang hanya mengandalkan elektabilitas tanpa intelektualitas di 2029,” ucapnya.
Sementara itu, Putu Ayu Saraswati menyoroti tantangan generasi muda yang hidup di tengah sistem yang belum ideal, namun tetap memiliki tanggung jawab besar terhadap masa depan. Ia menekankan pentingnya belajar dan mengasah empati agar suara pemuda memiliki makna dan daya perubahan.
“Kita hidup di era dengan akses pengetahuan yang begitu mudah. Gunakan itu untuk menjadi lebih cakap, supaya saat kita bersuara, kebisingan kita bermakna,” ucap Putu Ayu.
Adapun Adian Napitupulu menekankan bahwa niat dan keberpihakan kepada rakyat adalah modal utama bagi pemimpin masa depan. Ia berbagi pengalaman pribadinya yang penuh kegagalan namun menjadi bagian dari proses pembentukan karakter.
“Kalau mau memimpin negeri ini, yang penting punya niat baik, berpikir baik, dan bertindak baik. Saya mungkin punya semua syarat kegagalan, tapi tak ada yang bisa menjadi hakim masa depan saya,” tegasnya.
Menurut Adian, selama seseorang berpihak pada rakyat, maka rakyat akan memberikan dukungan yang tulus.
“Prinsipnya sederhana, kalau lu berpihak kepada rakyat, maka rakyat pasti berpihak pada lu,” tandasnya.
Talkshow tersebut menjadi salah satu rangkaian kegiatan Merah Muda Fest yang digelar PDIP untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda dengan semangat kolaborasi, intelektualitas, dan keberanian generasi muda menghadapi tantangan masa depan. ***










