KABUPATEN SEMARANG, obyektif.tv – Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, menegaskan pentingnya kemandirian daerah dalam membangun ekosistem industri gim nasional. Hal itu ia sampaikan dalam Workshop Membangun Kemajuan Daerah Melalui Dunia Gim yang digelar Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif melalui Direktorat Gim di Hotel Griya Persada, Kabupaten Semarang, Sabtu (13/11/2025).
Samuel menilai potensi industri gim Indonesia sangat besar, mengingat populasi domestik mencapai 280 juta jiwa. Namun demikian, ia menekankan pentingnya kemandirian daerah dalam membangun ekosistemnya.
“Untuk mandiri harus punya harga diri, dan untuk punya harga diri kita harus tahu apa yang kita miliki,” ujarnya.
Samuel juga mengajak peserta menanamkan semangat Trisakti Bung Karno—berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan— sebagai fondasi berkarya di era teknologi. Menurutnya, generasi muda Indonesia memiliki rasa ingin tahu dan potensi kuat untuk bersaing secara global.
“Jangan dunia yang menjadikan kita pasar mereka, tetapi bagaimana kita menjadikan dunia sebagai pasar kita,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang, Dimas Herdy Utomo, memandang workshop ini sebagai langkah strategis memperkuat ekosistem ekraf lintas subsektor. Dari 100 peserta, panitia melibatkan pelaku gim, event planner, cosplayer, animator, videografer, hingga komunitas film.
“Dari satu gim saja, ada subsektor film, fotografi, videografi, animasi, dan sebagainya. Ini peluang besar untuk menjahit ekosistem yang terintegrasi,” jelasnya.
Dimas juga mendorong perluasan perspektif terhadap gim, tidak hanya gim digital populer, tetapi juga gim edukasi yang dapat dimanfaatkan di lembaga pendidikan. Ia berharap pemerintah daerah memberi dukungan konkret, termasuk ruang pertemuan dan pengembangan creative hub seperti di kawasan Bukit Cinta Rawa Pening.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang, Wiwin Sulistyowati, mengapresiasi penyelenggaraan workshop ini. Menurutnya, Kabupaten Semarang memiliki modal kuat untuk mengembangkan subsektor gim melalui keberadaan sejumlah SMK berbasis TIK.
“Dari 17 subsektor ekraf, bidang gim bisa kita dorong lewat talenta SMK yang sudah ada,” katanya.
Wiwin juga mendorong pengembangan konten gim berbasis budaya lokal, seperti legenda Baruklinting dari kawasan Rawa Pening, yang dinilai berpotensi menjadi karya bernilai ekonomi tinggi.
Melalui workshop ini, Kemenparekraf berharap terbangun kerja sama lintas sektor untuk memperkuat ekosistem industri gim di Kabupaten Semarang. Dengan kekayaan cerita lokal, talenta muda, dan komunitas yang tumbuh, daerah ini dinilai memiliki peluang besar menjadi salah satu pusat pertumbuhan industri gim di Jawa Tengah. ***










