KABUPATEN SEMARANG, obyektif.tv – Mural Competition di Dusun Mapagan, Kabupaten Semarang, mendapat apresiasi luas dari berbagai pihak. Salah satu dukungan datang dari Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, yang menyempatkan hadir di lokasi kegiatan pada Sabtu (30/11/2025). Kehadirannya memberikan dorongan semangat bagi para muralis yang tengah berkarya hingga petang, serta bagi warga yang antusias menikmati suasana kreatif di RT 02 Dusun Mapagan.
Didampingi Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang, Dimas Herdy Utomo, Samuel menyusuri sepanjang ruas jalan yang kini dihiasi 19 karya mural pada dinding rumah warga. Sesekali ia berhenti untuk berbincang dengan para muralis mengenai konsep dan pesan visual yang mereka tuangkan dalam karya tersebut. Samuel juga tampak berdialog dengan warga sekitar, membahas manfaat kegiatan mural bagi lingkungan serta harapan mereka terhadap pengembangan kegiatan serupa di masa mendatang.
Dimas menjelaskan bahwa festival mural ini menjadi bagian dari Festival Ekonomi Kreatif dan Desa Wisata Kabupaten Semarang, yang bertujuan mempertemukan talenta dengan industri kreatif.
“Ini adalah ruang pertemuan antara talenta kreatif dengan industri. Ada mahasiswa, komunitas mural, dan para seniman lokal yang bertemu dengan industri cat dan sponsor,” ujar Dimas.
Ia menyebut kegiatan ini didukung oleh 22 brand cat, termasuk No Drop, yang memastikan penyelenggaraan berlangsung optimal. Dimas juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh jaringan pendukung kegiatan ini.
“Sebelumnya terima kasih kepada Jejaring Kolektif Semarang Serasi, Yayasan Sangkar Wiku Tumuwuh dan Serabut Nusa atas dukungannya terhadap kegiatan ini. Terima kasih juga kepada pihak sponsor, yang akhirnya festival mural pertama di Kabupaten Semarang ini bisa terlaksana dengan animo yang baik. Terima kasih juga untuk teman-teman dari Universitas Negeri Semarang serta panitia lokal di Dusun Mapagan, Desa Lerep, Kabupaten Semarang,” katanya.

Dimas menjelaskan bahwa mural menjadi subsektor penting dalam sektor seni rupa sebagai bagian dari 17 subsektor ekonomi kreatif nasional. Menurutnya, kegiatan ini menunjukkan bahwa kreativitas memiliki nilai ekonomi tinggi jika mampu tersambung dengan industri yang tepat.
Festival mural ini juga menjadi contoh penerapan konsep placemaking—mengubah ruang publik yang sebelumnya pasif menjadi ruang aktif dan bermanfaat bagi masyarakat.
“Yang paling penting adalah bagaimana ruang publik diaktifkan melalui karya kreatif. Tempat yang sebelumnya kosong kini menjadi destinasi baru yang memberi multiplier effect ekonomi,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan ini turut melibatkan sektor lain seperti videografi, fotografi, media, hingga pelaku kuliner lokal. Salah satunya terlihat dari hadirnya Ider Kopi, usaha kopi keliling khas Mapagan yang muncul sebagai bagian dari ekosistem kreatif.
“Kami ingin menunjukkan bahwa membangun ekonomi kreatif tidak harus dengan anggaran besar. Kuncinya kolaborasi dan keberanian memulai,” tegasnya.
Dimas menyebut kegiatan mural ini merupakan satu dari 13 rangkaian kegiatan menuju Festival Ekonomi Kreatif dan Desa Wisata yang akan digelar pada 6–7 Desember 2025 di destinasi wisata Bukit Cinta.
“Ekonomi kreatif harus tumbuh dari akar rumput. Dengan kolaborasi puluhan komunitas dan dukungan jejaring Semarang Serasi, kami yakin ekosistem ini akan berkembang lebih kuat,” tuturnya.
Dimas menutup dengan mengutip pesan Bupati Semarang, Ngesti Nugraha, mengenai kemandirian daerah: “Kabupaten Semarang harus berdikari—berdiri di atas kaki sendiri. Ekosistem kreatif harus tumbuh dari komunitas yang tangguh dan mandiri.”
Kunjungan Samuel Wattimena pada gelaran Mural Competition di Dusun Mapagan menjadi bentuk dukungan nyata terhadap penguatan ekosistem ekonomi kreatif daerah. Selain memberikan apresiasi kepada para muralis dan warga, kehadirannya menunjukkan pentingnya kolaborasi berbagai pihak—pemerintah, industri, komunitas, dan masyarakat—dalam menciptakan ruang publik yang lebih hidup dan produktif.
Kegiatan mural di Mapagan bukan hanya menghasilkan karya visual yang memperindah lingkungan, tetapi juga mendorong tumbuhnya destinasi baru yang berpotensi memperkuat ekonomi lokal serta membuka kesempatan lebih luas bagi talenta kreatif untuk berkembang. ***










