KABUPATEN SEMARANG, obyektif.tv – Festival Ekonomi Kreatif dan Desa Wisata 2025 bertajuk Rembulan Serasi yang untuk pertama kalinya digelar di kawasan Bukit Cinta, Rawa Pening, Kabupaten Semarang, pada 6–7 Desember 2025, mendapat respons positif dari peserta maupun pengunjung. Gelaran ini menampilkan ragam seni pertunjukan, produk kreatif, hingga kuliner alternatif dari 17 desa wisata di Kabupaten Semarang.
Ketua Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Kabupaten Semarang, Dimas Herdy Utomo, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, termasuk sponsor, donatur, pemerintah daerah, komunitas, hingga 17 desa wisata peserta. Menurutnya, kolaborasi besar inilah yang membuat festival pertama ini berjalan lancar dan penuh inovasi.
“Kami melihat animo yang sangat baik dari peserta maupun panitia. Banyak yang sudah mulai mengadopsi kemasan berbahan recycle, menyiapkan tempat sampah terpilah di area stand, hingga mengusung narasi ekonomi hijau dalam presentasi produk,” ujar Dimas.
Ia juga mengapresiasi dukungan Coca-Cola melalui produk Ades yang dijadikan bagian dari kampanye green festival.
Dimas menegaskan, penerapan green festival di Kabupaten Semarang memang masih berada pada tahap awal, namun menjadi pijakan penting menuju penyelenggaraan event berkelanjutan. KEK Kabupaten Semarang juga berencana mendaftarkan kekayaan intelektual (IP) untuk nama Rembulan Serasi, agar festival ini dapat tumbuh menjadi identitas Kabupaten Semarang dan digelar rutin setiap tahun.
“Kami terbuka untuk kolaborasi ke depan. Bahkan sudah ada apresiasi dari komite ekraf kabupaten lain dan kunjungan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Lamandau. Dengan anggaran terbatas, kami senang bisa memberikan pengalaman berbeda bagi masyarakat,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua KEK Jawa Tengah, Ahmad Khairudin, menilai festival ini tampil sederhana namun kreatif, terutama dengan ragam dekorasi stand yang lebih variatif. Ia menyebut gelaran ini mampu menjadi pemantik tumbuhnya ekonomi kreatif dan desa wisata di Kabupaten Semarang.
“Ini bisa menjadi pemicu geliat baru, apalagi menjelang akhir tahun. Kami sedang mencari benang merah antarwilayah agar potensi Bukit Cinta dan Rawa Pening bisa terhubung dengan destinasi lain seperti Benteng Pendem, Museum Kereta Api Ambarawa, hingga kawasan Borobudur,” jelasnya.
Ketua Panitia Festival, Satria Ramadhani, menambahkan bahwa pihaknya ingin menghadirkan pengalaman festival yang unik melalui seni pertunjukan, atraksi desa wisata, dan produk kreatif yang selaras dengan kampanye lingkungan. Salah satu momen yang paling diapresiasi adalah Kenduri Rawa Pening sebagai upacara pembukaan festival.
“Kami memadukan kesenian daerah, kuliner alternatif pengganti nasi, hingga edukasi tentang material ramah lingkungan untuk keperluan pameran. Kami juga mendorong peserta menghindari penggunaan barang sekali pakai dan memakai material promosi daur ulang,” kata Rama, sapaan akrabnya.
Ia berharap festival ini dapat berlanjut, bahkan bisa digelar secara rutin, misalnya setiap tanggalan Jawa saat fenomena padang bulan yang menjadi keistimewaan Bukit Cinta sebagai lokasi menikmati rembulan.
“Terima kasih kepada semua pihak yang mendukung. Kami membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya. Sampai jumpa di festival berikutnya,” pungkasnya.
Salah satu peserta, Dimas Roby Prasetyo dari Ambarawa Carnival yang berkolaborasi dengan Salatiga Iconic Carnival, mengaku bangga bisa menampilkan karya kreatifnya.
“Kami senang bisa memperlihatkan hasil kreativitas kami kepada masyarakat. Semoga tahun depan festival ini terus berlanjut dan mendapatkan dukungan lebih besar,” ujarnya.
Ia tampil dengan kostum bertema elang, sementara rekannya Ayu Lestari mengenakan kostum anggrek biru. Keduanya berharap festival ini terus menjadi ruang bagi komunitas kreatif untuk berkembang dan memperkenalkan karya mereka kepada publik.
Penyelenggaraan perdana Festival Ekonomi Kreatif dan Desa Wisata Kabupaten Semarang membuktikan bahwa kolaborasi antarkomunitas, pemerintah, dan pelaku desa wisata mampu menghadirkan inovasi baru dalam pengembangan ekonomi kreatif daerah. Penerapan awal narasi green festival menjadi pijakan penting untuk membangun kesadaran ekologis serta mendorong praktik penyelenggaraan acara yang lebih ramah lingkungan di masa mendatang.
Dengan tingginya antusiasme masyarakat dan komitmen para pemangku kepentingan untuk terus meningkatkan kualitas festival, gelaran ini diharapkan berkembang menjadi agenda tahunan yang memperkuat identitas budaya Kabupaten Semarang. Selain memantik kreativitas generasi muda, festival ini juga diyakini dapat menggerakkan ekonomi lokal secara berkelanjutan dan memperluas jejaring kolaborasi antarwilayah. ***










