JURNALIS/EDITOR: Dwi Roma | KENDAL | obyektif.tv
SEMANGAT solidaritas masyarakat Kota Santri Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah untuk meringankan beban saudara-saudara di Sumatera menemui muaranya. Hasil donasi dari panggung kemanusiaan bertajuk “Pray for Sumatera” resmi diserahkan kepada Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kendal pada Selasa (30/12/2025) pagi.

Dana sebesar Rp 19.457.500 tersebut merupakan buah dari gerakan kolektif yang digelar di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Alun-alun Kaliwungu pada Sabtu (20/12/2025) malam lalu. Penyerahan dilakukan secara simbolis oleh Albadrul Munir Wibowo (Ketua KNPI Kaliwungu) bersama Agus Setyawan (Kepala Sekolah Santri Laju Pungkuran) di Kantor PMI Kendal.

Aksi “Pray for Sumatera” bukanlah sekadar penggalangan dana biasa. Diprakarsai oleh Madrasah Budaya Pungkuran, kegiatan ini menjadi peleburan indah antara berbagai elemen masyarakat—mulai dari komunitas santri, penggiat sastra, seniman, budayawan, grup marching band, musisi lokal, hingga aktivis lingkungan.
Mereka yang turut memaknai kegiatan amal tersebut, di antaranya Sedulur Entertainmen Kaliwungu-Brangsong, Marching Band (MB) Gita Nirwana, Rebana SDN 3 Plantaran, Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK), Badan Koordinasi Pemuda Pencinta Alam Kaliwungu (Bakoppak), KNPI Kaliwungu, Masyarakat Peduli Lingkungan Alun-alun (Mapela) Kaliwungu, Kampung Ragam Warna, Tari Sufi Kaliwungu, serta Santri Laju Voice, Kidungaji Orchestra, dan Gus N’ Roses.
Acara malam itu dikemas apik melalui sajian panggung seni budaya yang dibalut dengan “Ngaji Lingkungan”. Dua tokoh sentral, Pengasuh Madrasah Budaya Pungkuran KH Abdul Muis (Gus Muis) dan budayawan Mahmud Elqadrie, memandu masyarakat untuk merenung lewat untaian pesan moral dan kecintaan pada alam.
Gus Muis menegaskan bahwa amanah yang dititipkan masyarakat melalui komunitas ini kini telah berada di tangan yang tepat untuk segera didistribusikan.
“Semoga kebaikan dan donasi dari masyarakat serta komunitas di Kaliwungu ini memberikan manfaat nyata dan menjadi peneduh bagi saudara-saudara kita yang sedang diuji bencana di Sumatera,” ungkap Gus Muis.
Lebih jauh, Gus Muis memberikan refleksi mendalam mengenai rentetan bencana yang melanda berbagai daerah. Menurutnya, musibah seringkali menjadi cermin dari interaksi manusia dengan lingkungan sekitarnya.
Gus Muis menyerukan pentingnya taubat nasuha dan evaluasi diri secara kolektif.
“Mari kita kembali mencintai alam, merawat bumi dengan tulus, serta lebih peka terhadap isu-isu lingkungan agar harmoni antara manusia dan alam tetap terjaga,” pungkasnya.***










