SEMARANG, obyektif.tv – Kawasan Stasiun Tuntang, Kabupaten Semarang, kini menghadirkan wajah baru pariwisata berbasis heritage melalui peluncuran wisata perahu di dermaga Stasiun Tuntang. Mengusung konsep “ala Korea”, wisata ini menawarkan pengalaman menyusuri perairan Rawa Pening dengan nuansa estetik dan romantis.
Inisiatif tersebut merupakan hasil kolaborasi antara PT Kereta Api Indonesia (Persero) melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dan PT Kereta Api Pariwisata (KAI Wisata) selaku pengelola kawasan Stasiun Tuntang. Kehadiran wisata perahu ini diharapkan mampu menarik wisatawan lokal, domestik, hingga mancanegara, sekaligus memperkuat posisi Stasiun Tuntang sebagai stasiun heritage bersejarah yang sarat nilai kebangsaan.
VP Corporate Secretary KAI Wisata, Otnial Eko Pamiarso, mengatakan wisata perahu ini menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali kawasan heritage melalui konsep wisata kreatif dan berkelanjutan. Menurutnya, Stasiun Tuntang bukan sekadar stasiun kereta api, melainkan juga situs sejarah nasional yang memiliki peran penting dalam perjalanan perkeretaapian dan sejarah bangsa Indonesia.
“Melalui dukungan CSR KAI (Persero) dan pengelolaan oleh KAI Wisata, kami menghadirkan wisata perahu ini sebagai simbol sinergi induk dan anak perusahaan dalam mengangkat nilai sejarah menjadi pengalaman wisata yang menarik, edukatif, dan bernilai ekonomi,” ujar Otnial di Semarang, Selasa (13/1/2026).
Pemilihan konsep perahu ala Korea dilakukan untuk memberikan sentuhan visual dan pengalaman yang unik, sehingga mampu menarik minat generasi muda dan wisatawan internasional yang gemar wisata berbasis budaya serta fotografi. Corporate Branding & Communication KAI Wisata, Riesta Junianti, menambahkan bahwa wisata perahu di Dermaga Stasiun Tuntang merupakan bagian dari strategi experience-based tourism yang saat ini semakin diminati.
“KAI Wisata ingin menjadikan Stasiun Tuntang sebagai destinasi heritage yang tidak hanya dilihat, tetapi juga dirasakan. Wisata perahu ini menawarkan pengalaman yang instagramable, romantis, dan sarat makna sejarah,” kata Riesta.
Selain memperkaya daya tarik kawasan, wahana ini juga memperkuat storytelling Stasiun Tuntang sebagai saksi sejarah transportasi dan perjalanan bangsa, sekaligus membuka peluang promosi pariwisata Jawa Tengah ke tingkat internasional.
Wisata perahu di Dermaga Stasiun Tuntang beroperasi setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Pengunjung dapat menikmati perjalanan selama 20 menit dengan tarif Rp15.000 per orang, dengan kapasitas maksimal lima penumpang per perahu.
Dengan hadirnya wisata perahu ini, kawasan Stasiun Tuntang semakin lengkap sebagai destinasi wisata terpadu yang menggabungkan unsur heritage, edukasi, dan rekreasi. Pengunjung tidak hanya dapat menikmati suasana stasiun bersejarah, tetapi juga menjelajahi perairan Rawa Pening dengan nuansa khas yang berbeda dari destinasi lainnya.
“KAI Wisata bersama KAI (Persero) berharap inisiatif ini dapat menjadi magnet baru pariwisata, meningkatkan kunjungan wisatawan, serta menguatkan citra Stasiun Tuntang sebagai ikon heritage nasional yang membanggakan Indonesia di mata dunia,” pungkas Otnial. ***










