OPINI: Dedek Wiradi
RAMADAN 1447 Hijriah sudah di depan mata, bulan puasa yang penuh berkah, tapi gambaran Tunjangan Hari Raya (THR) sudah melayang-layang di kepala para buruh dan guru-guru yang belum tersejahterakan oleh negara, barangkali THR itu cukup buat masak opor ayam di hari Lebaran tiba. Di sisi lain, bagaimana kabar Makan Bergizi Gratis (MBG) di saat Ramadan nanti?

Program MBG yang diusung oleh ambisi Presiden Prabowo tersebut membawa dampak ganda terhadap beberapa pihak di masyarakat, kualitas pendidikan dan kesejehteraan guru di Indonesia. Sisi positifnya, terlihat adanya peningkatan konsentrasi dan prestasi para siswa (kabarnya). Sedangkan dampak negatif yang amat menyengat mata dan menyayat hati: yaitu pengalihan anggaran yang besar, efisiensi di mana-mana, mutasi pekerja terjadi di sana-sini. Fenomena tersebut tentu merugikan beberapa pihak dan jelas merugikan para guru dan kualitas pendidikan kita.
Bagaimana Jika Pemerintah Meliburkan MBG di Ramadan?
Di Bulan Ramadan, jika Pemerintah meliburkan sejenak program MBG-nya, Pemerintah bisa mengalokasikan dananya untuk perbaikan sekolah-sekolah yang rusak, jalan-jalan desa/ kabupaten bahkan lintas provinsi yang masih kurang bersahabat. Selain itu, pemerintah juga bisa menggunakan anggarannya ke subsidi bus, kapal, kereta, bahkan ongkos pesawat yang harganya “nggak ngotak” ketika musim mudik Lebaran.

Beberapa hari yang lalu, terkait bencana Sumatera: ada cerita yang membuat saya sampai menepuk jidat. Bagaimana tidak, sekelas Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin saja, pada rapat antara DPR dan Pemerintah di Banda Aceh (10/1/2026), mengeluh soal tiket pesawat. Dilansir dari media berita kompas.com, Budi mengatakan bahwa tiket pesawat ke Sumatera (tepatnya di Aceh) sangat mahal, bisa mencapai Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Ya, akhirnya Pak Menkes sampai harus muter lewat Malaysia buat mengirim relawan ke Aceh waktu itu.
Lalu, bagaimana dengan rakyat yang ingin mudik Lebaran nanti? Bagaimana dengan masyarakat Sumatera yang merantau di Jawa? Tiket domestik mahal, akar masalahnya struktur pasar dan regulasi penerbangan yang bobrok. MBG dapet Rp 335 triliun dari APBN pendidikan, tapi subsidi tiket mudik nol besar. Prioritasnya bagaimana? perut siswa sekolah (yang belum jelas dampak positifnya) atau perjalanan pulang kampung masyarakat luas?

Belum lagi membicarakan tentang pemulihan bencana Sumatera: masih banyak daerah-daerah yang perlu diperbaiki dengan dana yang sangat besar. Banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera dampaknya sangat memilukan, ini tak cukup menggunakan alokasi dana Kementerian Sosial (Kemensos) yang hanya 76, 04 triliun itu.
Artinya, dengan meliburkan dana MBG ini sebulan, negara bisa menghemat dana triliunan. Bagaimana jika dialihkan ke subsidi tiket, perbaikan jalan, menaikkan gaji guru? Dampak positifnya sangat terpampang jelas: mudik aman, guru semangat mengajar, korupsi minim.
Dampak Negatif pada Anggaran Pendidikan
Dilansir dari media berita detik.com: dari Rp 757,8 triliun anggaran pendidikan 2026, Rp 335 triliun (44%) dialokasikan untuk MBG, menyisakan sedikit untuk riset, beasiswa, dan infrastruktur. Ya, hanya Rp 178,7 triliun untuk tunjangan guru. Pakar UM Surabaya Achmad Hidayatullah menyoroti bahwa anggaran untuk beasiswa, kesejahteraan guru dan dosen, riset, serta infrastruktur pendidikan masih kecil.

Selain itu, guru honorer “hanya” digaji Rp 300 ribu-Rp 2 juta per bulan, sementara sopir MBG bisa Rp 100 ribu per hari, apakah ini bukan bentuk dari ketimpangan sosial
Belum lagi beban administratif MBG menambah tugas guru tanpa peningkatan kesejahteraan, saya pikir ini mampu menurunkan motivasi mengajar para guru. Bagaimana tidak, anggaran pendidikan “murni” tersisa Rp 422,8 triliun setelah MBG menggerus tunjangan dan sertifikasi guru.
Etika Ibadah Ramadan, Kemaslahatan dan Sensitivitas Masyarakat yang Berpuasa
Ramadan adalah momentum muhasabah diri bagi masyarakat Muslim, puasa bareng keluarga, ada juga yang menjemput rindu-rindu yang tertinggal di langit kampung halamannya. Bulan Ramadan bukan momen mogok puasa bagi para siswa yang “belajar berpuasa”. Bahkan MBG di Bulan Ramadan ini berpotensi menyebabkan para siswa “buka puasa diam-diam”.
Sejalan dengan itu, Ketua Guru Ngaji dan Mubaligh Indonesia, Ustaz Ahmad Sodiq meminta Badan Gizi Nasional (BGN) mengkaji ulang Proyek MBG di Bulan Ramadan. Ahmad menganggap bahwa proyek MBG sensitif terhadap makna Ramadan itu sendiri. Hal tersebut ia sampaikan di Masjid Istiqlal Jakarta, pada (19/1/2026) lalu.
Para siswa yang seharusnya belajar di siang hari dengan keadaan berpuasa, malah disodorkan dengan menu MBG yang bisa saja mereka makan diam-diam selepas sekolah. Bagaimana tidak, tanpa cara pengemasan dan penyimpanan yang tepat, MBG bisa menggoda siapa saja; termasuk yang ngurus dapur MBG, apalagi anak-anak.
Menurut Ustaz Ahmad Sodiq, anak-anak dalam masa pertumbuhan, akan menyulitkan mereka menahan lapar, dan akhirnya mengurangi nilai pendidikan spiritual Ramadan. Ia juga menekankan bahwa bentuk dari keberatan sebagian ulama di Indonesia terhadap MBG di Bulan Ramadan, bukan karena Islam tidak membolehkan, tetapi karena alasan etika ibadah, kemaslahatan, dan sensitivitas umat yang sedang berpuasa. Artinya, MBG di Bulan Ramadan bukan sekadar soal gizi fisik yang katanya demi stunting, tapi lebih ke sabotase spiritual yang halus. Puasa jadi mogok massal versi negara, anak-anak berpotensi buka diam-diam gara-gara bekal katering yang ngumpet di tas sekolah, sementara orang tua dan ulama cuma bisa geleng-geleng kepala lihat pemerintah lebih pilih prioritas perut ketimbang hati yang lagi belajar syariat.
Ustaz Ahmad Sodiq sudah memberi sinyal merah dari Masjid Istiqlal: ini bukan larangan syariat, tapi etika ibadah yang dilupakan demi APBN yang katanya pro-rakyat padahal pro-katering, malah bikin Ramadan berasa promo all-you-can-eat di tengah Bulan Suci.
Saya pikir, lebih baik liburkan dulu MBG sebulan, biarkan siswa belajar puasa dengan sungguh-sungguh, keluarga buka bareng tanpa drama bekal basi, dan BGN fokus urus sensitivitas umat ketimbang target pencapaian yang tak nyambung dengan ruh Ramadan.***
Dedek Wiradi adalah Mahasiswa Magister Kajian Sastra dan Budaya FIB Unair, Ketua BEM FBS UNP 2023-2024, Koordinator Pusat ILMIBSI 2024-2025.










