KABUPATEN SEMARANG, obyektif.tv – – Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, menekankan pentingnya memahami filosofi batik dan busana adat sejak dini, bukan sekadar memakainya sebagai pakaian seremonial. Pernyataan ini disampaikan dalam sosialisasi empat pilar kebangsaan dan sarasehan budaya yang digelar di Aula Griya Ageng Kedaton, Desa Kedaton, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, Senin (23/2/2026).
“Kalau anak-anak disuruh pakai Surjan, jangan hanya sekadar pakai. Mulai dari kecil, mereka harus dikenalkan apa itu Surjan dan maknanya,” ujar Samuel.
Ia menambahkan, fenomena serupa terjadi pada batik. Banyak orang memakai batik setiap hari tanpa memahami motif atau filosofi di baliknya.
“Dalam batik terdapat motif yang mencerminkan kebijaksanaan, etika berpakaian sesuai situasi, hingga acara tertentu. Mayoritas orang tidak paham, sekadar memakai saja. Ini menjadi tugas kita untuk memahami, menyosialisasikan, dan membuat narasi yang kuat agar budaya kita tetap hidup dan bahkan menjadi penggerak ekonomi,” jelasnya.
Senada, Ketua Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Kecamatan Bawen, Eka Vivi Rahayu, menekankan pentingnya edukasi tentang tata cara penggunaan Gagrak Semarang, busana adat khas Kabupaten Semarang. Ia menyoroti masih seringnya terjadi kesalahan dalam pemakaian, mulai dari kelengkapan busana, lilitan jarik, hingga penempatan aksesori.
“Gagrak Semarang bukan sekadar pakaian seremonial, tetapi simbol identitas budaya yang mengandung nilai estetika dan etika. Motif-motifnya merefleksikan sejarah, legenda, dan kekayaan alam setempat, seperti Candi Gedong Songo, legenda Baruklinting, bunga kopi, dan daun semanggi,” kata Eka.
Ia menambahkan, setiap motif memiliki makna filosofis. Motif Candi Gedong Songo melambangkan nilai sejarah dan spiritualitas, motif Baruklinting mengajarkan keseimbangan manusia dan alam, sementara motif flora mencerminkan kesuburan, kerja keras, dan keberlanjutan. Warna gelap yang dominan menegaskan karakter kewibawaan dan kesederhanaan masyarakat Semarang.
“Pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mengenakan busananya. Pemahaman filosofi yang terkandung di dalamnya sama pentingnya. Dengan sosialisasi dan edukasi yang intensif, masyarakat dapat menghargai dan meneruskan warisan budaya ini,” pungkasnya. ***










