KABUPATEN SEMARANG, obyektif.tv – Ketua Yayasan Sangkar Wiku Tumuwuh, Dimas Herdy Utomo, menegaskan bahwa Marhaenisme tetap relevan sebagai pisau analisis dalam membaca realitas sosial kontemporer di tengah perkembangan ekonomi digital. Karena itu, kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dituntut mampu berpikir kritis melalui pendekatan Marhaenisme modern.
Hal tersebut disampaikan Dimas saat mengisi materi dalam Kaderisasi Tingkat Dasar GMNI Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Diponegoro (Undip), yang digelar di Villa Karang Kadempel Bandungan, Kabupaten Semarang, Jumat (1/5/2026) dini hari.
Dalam pemaparannya, Dimas—yang merupakan alumni GMNI FISIP Undip angkatan 2005, pernah menjabat sebagai Wakil Komisaris Bidang Politik pada 2007 serta Ketua Umum Senat Mahasiswa FISIP Undip di tahun yang sama, dan juga dikenal sebagai pendiri komunitas Serabut Nusa—menjelaskan bahwa konsep Marhaenisme tidak lagi hanya dipahami dalam konteks klasik seperti petani tanpa lahan, melainkan perlu dibaca secara lebih luas dan kontekstual.
Menurutnya, fenomena pekerja ojek online menjadi contoh nyata bagaimana seseorang tampak memiliki alat produksi—seperti motor—namun belum sepenuhnya mandiri secara ekonomi. Hal serupa juga terjadi pada pelaku UMKM yang belum memiliki kedaulatan penuh atas karya dan usahanya.
“Artinya, kita perlu bertanya, posisi kita ada di mana? Dan bagaimana Marhaenisme bisa menjadi pisau analisis untuk menjawab persoalan tersebut,” ujarnya.
Dimas juga mengajak para kader GMNI untuk tidak sekadar memahami Marhaenisme sebagai teori, tetapi menjadikannya sebagai landasan berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menekankan pentingnya setiap kader memiliki kesadaran tujuan atau why dalam berproses di GMNI, termasuk setelah menyelesaikan pendidikan.
“Ber-GMNI tidak selesai saat lulus atau setelah kaderisasi. Nilai-nilai itu harus terus hidup dalam setiap langkah, terutama ketika kita terjun di tengah masyarakat,” katanya.
Menurutnya, keberlanjutan nilai Marhaenisme dalam praktik kehidupan sosial menjadi hal penting, terutama dalam menghadapi berbagai dinamika sistem yang berkembang saat ini. ***










