SEMARANG, obyektif.tv – Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, mengajak masyarakat untuk terus nguri-uri atau melestarikan Makam Sayyid Husein bin Hood atau Kiai Jungke sebagai warisan sejarah sekaligus destinasi wisata religi di Kota Semarang.
Ajakan tersebut disampaikan Iswar saat menghadiri Pengajian Akbar Haul Sayyid Husein bin Hood atau Kiai Jungke yang dirangkaikan dengan peresmian kompleks Makam Kiai Jungke di Jalan Gendingan, Kelurahan Pandansari, Kecamatan Semarang Tengah, Sabtu (27/6/2026) malam.
Sebelum mengikuti pengajian, Iswar bersama para ulama, tokoh masyarakat, dzuriyah Kiai Jungke, dan warga setempat berziarah ke makam, mengikuti tahlil, serta memanjatkan doa. Setelah itu, ia turut menikmati Sego Ndok Sambal Kecap, kuliner warisan Kiai Jungke yang hingga kini masih dilestarikan oleh masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Iswar mengenang kunjungannya ke makam Kiai Jungke pada 2017, jauh sebelum kawasan tersebut direnovasi. Saat itu, ia melihat sebuah batu bertuliskan angka tahun 1681 yang diyakininya menjadi salah satu penanda sejarah keberadaan Kiai Jungke di Kota Semarang.
Menurutnya, Kiai Jungke merupakan salah satu tokoh penting dalam penyebaran Islam di Semarang. Keberadaan makam-makam tua di kawasan Semarang Tengah juga menunjukkan tingginya nilai historis wilayah tersebut sebagai salah satu kawasan tertua di Kota Semarang.
“Hari ini dzuriyah beliau bersama masyarakat Kelurahan Pandansari ingin mengingatkan kembali bahwa ada seorang tokoh yang perlu kita uri-uri. Kita perlu meneladani perjuangan beliau pada masa lalu,” kata Iswar.
Ia mengapresiasi inisiatif masyarakat yang menggelar haul sekaligus menata kembali kompleks makam Kiai Jungke. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana mengenang jasa ulama, tetapi juga membuka peluang berkembangnya wisata ziarah yang berdampak pada perekonomian masyarakat.
“Mudah-mudahan Kelurahan Pandansari akan semakin banyak menerima tamu yang datang untuk berziarah. Kami berharap ekonomi rakyat bisa bangkit dan bergerak. Tolong betul-betul makam ini di-uri-uri dengan baik agar para peziarah merasa nyaman saat datang ke sini,” ujarnya.
Iswar berharap penyelenggaraan Haul Kiai Jungke dapat menjadi agenda rutin masyarakat sebagai bentuk penghormatan kepada para ulama sekaligus upaya menjaga warisan sejarah dan budaya Kota Semarang.
Sementara itu, penceramah KH Ali Maksum menyampaikan bahwa haul memiliki tiga hikmah utama, yakni lil istighfar sebagai momentum memohon ampun kepada Allah SWT, lil istidzkar untuk mengenang jasa para wali dan ulama, serta lil istijma’ sebagai sarana mempererat silaturahmi dan kerukunan masyarakat.
Menurutnya, keberadaan makam para wali merupakan keberkahan bagi masyarakat di sekitarnya. Karena itu, warga diharapkan menjaga, merawat, serta melestarikan budaya, tradisi, dan nilai-nilai keilmuan yang diwariskan para ulama, termasuk Kiai Jungke.
Pengajian Akbar Haul Kiai Jungke berlangsung khidmat dan dihadiri ratusan jamaah dari berbagai daerah. Selain menjadi momentum mengenang perjuangan Sayyid Husein bin Hood atau Kiai Jungke dalam syiar Islam di Semarang, kegiatan tersebut juga memperkuat semangat masyarakat untuk menjaga warisan sejarah, budaya, dan tradisi religi agar tetap lestari serta dapat diwariskan kepada generasi mendatang. ***






