Beranda / LIFESTYLE / SENI BUDAYA / Bedug Ditabuh, Dugderan Teguhkan Tradisi Sambut Ramadan

Bedug Ditabuh, Dugderan Teguhkan Tradisi Sambut Ramadan

SEMARANG, obyektif.tv – Dentuman bedug dan gelegar meriam Kolontoko menandai dimulainya rangkaian Ramadan 1447 Hijriah di Kota Semarang. Tradisi Kirab Dugderan kembali digelar meriah di kawasan Masjid Agung Jawa Tengah, Senin (16/2/2026), bertepatan dengan akhir Sya’ban.

Penabuhan Bedug Ijo Mangunsari sepanjang 3,1 meter dengan diameter 2,2 meter menjadi puncak prosesi. Suara bedug yang menggema disusul dentuman meriam Kolontoko, simbol dimulainya bulan suci sekaligus peneguhan tradisi tahunan yang telah berlangsung sejak 1881 tersebut.

Dalam kirab itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, memerankan Kanjeng Adipati Raden Mas Tumenggung Prawirapradja. Sementara Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, tampil sebagai Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Purbadiningrum.

Prosesi diawali dengan penyerahan Suhuf Halaqah secara simbolis dari Wali Kota kepada Sekda, yang kemudian membacakannya di hadapan masyarakat. Momen tersebut menjadi penanda kesiapan umat Muslim menyambut Ramadan.

Sumarno menegaskan, Dugderan bukan sekadar seremoni, melainkan warisan budaya yang sarat nilai spiritual dan sosial.

“Ini adalah tradisi yang mempunyai nilai yang perlu kita lestarikan. Dugderan menjadi bagian dari kesiapan kita menghadapi bulan Ramadan. Harapannya, kita semua bisa menjalankan ibadah Ramadan dengan sebaik-baiknya dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah,” ujarnya.

Ia juga berharap Ramadan membawa keberkahan bagi masyarakat Jawa Tengah serta menjauhkan daerah dari berbagai bencana.

Sementara itu, Agustina Wilujeng Pramestuti menilai Dugderan tahun ini terasa lebih semarak. Ia menyoroti filosofi warak sebagai simbol harmoni dan pengendalian diri.

“Semua warak wajib ngendok. Kalau warak tidak ngendok nanti bisa congkrah, bisa bertengkar, tidak ada rezeki yang dibagi,” tuturnya.

Menurutnya, keterlibatan generasi muda dalam kirab menjadi kunci keberlanjutan tradisi. Partisipasi anak-anak dalam tarian dan arak-arakan dinilai sebagai proses transfer nilai budaya kepada generasi penerus.

Menariknya, Dugderan tahun ini bertepatan dengan perayaan Imlek dan masa puasa Paskah umat Kristen. Momentum tersebut dinilai semakin meneguhkan harmoni keberagaman di Kota Semarang.

“Harmoni ini akan terjalin lebih erat. Kalau Semarang damai, wisatawan akan lebih banyak berkunjung dan investasi pun meningkat,” pungkasnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *