Beranda / NEWS / Budi Arie Kembali Pimpin Projo, Tegaskan Hubungan dengan Jokowi Tak Terputus

Budi Arie Kembali Pimpin Projo, Tegaskan Hubungan dengan Jokowi Tak Terputus

JAKARTA, obyektif.tv – Budi Arie Setiadi kembali terpilih sebagai Ketua Umum Projo untuk periode 2025–2030 melalui keputusan aklamasi dalam Kongres III Projo yang digelar di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Minggu (2/11/2025). Mantan Menteri Koperasi dan UKM itu kembali dipercaya memimpin organisasi relawan yang ia dirikan pada 2013 tersebut.

Pimpinan sidang kongres, Freddy Damanik, menyampaikan hasil keputusan peserta kongres yang menetapkan Budi Arie sebagai ketua umum terpilih. Keputusan itu dituangkan dalam Ketetapan Kongres III Projo Nomor 02.KongresIII/XI/2025 tentang Ketua Umum DPP Projo periode 2025–2030.

Sebagai ketua formatur, Budi Arie mendapat mandat untuk menyusun kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) bersama empat anggota formatur lainnya, yakni Handoko, Tanto, Hidayat Komsu, dan Herwin.

Kongres juga menghasilkan lima resolusi utama, yaitu:

  1. Mendukung dan memperkuat pemerintahan Prabowo–Gibran.
  2. Mendukung agenda politik Presiden Prabowo dan menyukseskan kepemimpinan nasional hingga 2029.
  3. Melakukan transformasi organisasi menghadapi perubahan situasi nasional.
  4. Mendorong politik persatuan nasional.
  5. Berperan aktif mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Klarifikasi soal Hubungan dengan Jokowi

Dalam pidato perdananya seusai terpilih, Budi Arie menegaskan bahwa hubungan Projo dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo tetap erat, meski organisasi relawan itu kini mendukung pemerintahan Prabowo Subianto.

“Kami tak mungkin lepas dari Pak Jokowi. Sejarah Projo adalah bagian dari sejarah kepemimpinan rakyat selama 10 tahun, 2014–2024,” ujar Budi Arie.

Isu retaknya hubungan Projo dengan Jokowi sebelumnya muncul setelah organisasi itu mengganti logo yang semula identik dengan Jokowi, serta adanya rencana Budi Arie untuk bergabung dengan Partai Gerindra. Ketidakhadiran Jokowi dalam kongres juga sempat memunculkan spekulasi serupa, meski video sambutan Presiden ke-7 RI tetap ditayangkan.

Budi Arie menjelaskan bahwa istilah “Projo” bukan singkatan dari “Pro Jokowi”, melainkan berasal dari bahasa Sanskerta dan Jawa Kawi yang berarti “negeri” dan “rakyat”.

“Projo adalah gerakan rakyat. Kami lahir dari semangat rakyat yang ingin melahirkan pemimpin rakyat,” tegasnya.

Ia juga memastikan masih berkomunikasi dengan Jokowi.

“Pagi tadi saya masih berbicara dengan beliau,” katanya.

Transformasi dan Dukungan ke Pemerintahan Baru

Terkait perubahan logo, Budi Arie menegaskan hal itu merupakan bagian dari proses transformasi organisasi menghadapi tantangan zaman. Logo baru Projo akan ditentukan melalui sayembara agar publik ikut berpartisipasi.

Mengenai arah dukungan politik, ia menyebut langkah mendukung pemerintahan Prabowo–Gibran sebagai bentuk komitmen Projo untuk tetap berpihak kepada rakyat.

“Kini kita berada di fase baru. Setelah 10 tahun pemerintahan Jokowi, kita harus menyesuaikan diri dan bertransformasi agar tetap relevan,” ujarnya.

Budi Arie juga menyinggung rencananya bergabung dengan Partai Gerindra. Ia mengaku telah menyampaikan niat itu di hari pertama kongres dan mendapat restu dari relawan.

“Saya diajak langsung oleh Pak Prabowo. Kalau saya bergabung, mungkin banyak teman-teman Projo lain yang ikut,” katanya.

Menurutnya, langkah tersebut bukan berarti mengubah jati diri Projo sebagai organisasi relawan, melainkan memperluas ruang perjuangan politik untuk memperkuat agenda kerakyatan.

“Projo telah menjemput takdir sejarahnya. Kami adalah bagian dari gerakan rakyat yang selalu hadir dalam setiap fase penting bangsa ini,” tutup Budi Arie. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *