LAMPUNG, obyektif.tv – Etos kerja, ketekunan, dan daya tahan hidup menjadi modal utama para perantau asal Jawa Tengah ketika meninggalkan kampung halaman puluhan tahun silam. Nilai-nilai tersebut kini menjelma menjadi fondasi kesuksesan, melahirkan banyak tokoh berpengaruh di Provinsi Lampung, baik di bidang usaha maupun pemerintahan.
Diaspora Jawa, khususnya dari Jawa Tengah, telah lama menyebar ke berbagai wilayah Nusantara. Lampung menjadi salah satu tujuan utama, terutama sejak program transmigrasi digulirkan pemerintah pada pertengahan abad ke-20. Dari lahan-lahan yang dahulu masih perawan, para perantau membangun kehidupan baru, bertahan dalam keterbatasan, dan perlahan menata masa depan.
Salah satu potret perjalanan panjang itu tercermin pada sosok Riyanto Pamungkas, Bupati Pringsewu periode 2025–2030. Riyanto merupakan anak bungsu dari sebelas bersaudara, lahir dari keluarga transmigran mandiri asal Jawa yang datang ke Lampung pada 1956.
“Orang tua saya transmigrasi mandiri tahun 1956. Banyak masyarakat Jawa, baik dari Jawa Tengah, Jawa Timur, maupun Jawa Barat, yang hijrah ke Lampung. Alhamdulillah, mereka berkontribusi besar bagi pembangunan daerah ini,” ujar Riyanto saat menerima kunjungan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Rabu (7/1/2026).
Ayah Riyanto bekerja sebagai buruh, sementara ibunya meracik kopi secara rumahan. Dari lingkungan sederhana itu, Riyanto belajar tentang kerja keras dan keteguhan hidup. Pada usia 21 tahun, ia mulai merintis usaha kopi sangrai. Perjalanan panjang tersebut berbuah pada berdirinya pabrik Kopi Klangenan pada 2010, yang kini mampu menyerap ratusan tenaga kerja lokal.
Kesuksesan di dunia usaha mengantarkan Riyanto ke panggung kepemimpinan publik. Di Kabupaten Pringsewu, wilayah dengan mayoritas penduduk Jawa sekitar 70 persen, ia dipercaya memimpin hingga 2030.
“Saya ditakdirkan menjadi bupati yang notabene Pujakesuma, Putra Jawa Kelahiran Sumatera. Amanah ini bukan sekadar jabatan, tetapi tanggung jawab untuk melayani masyarakat Pringsewu,” tuturnya.
Menurut Riyanto, kunci keberhasilan diaspora terletak pada ketekunan, etos kerja tinggi, dan kemampuan bertahan dalam situasi sulit. Perantau, kata dia, terbiasa berjuang lebih keras karena memulai segalanya dari nol.
“Pendatang biasanya lebih ‘fight’. Bisa menahan lapar, menahan segalanya, karena tidak punya apa-apa. Tapi justru itu yang membentuk daya tahan,” ujarnya.
Meski demikian, Riyanto menekankan pentingnya menjaga jati diri dan nilai budaya. “Tetap rendah hati. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Identitas harus dijaga, sekaligus menghormati budaya tempat kita hidup,” katanya.
Jejak serupa juga terlihat pada Wakil Gubernur Lampung periode 2025–2030, Jihan Nurlela. Ia lahir dan besar di Lampung dari keluarga transmigran yang datang pada 1982. Ayahnya berasal dari Jawa Timur, sementara ibunya dari Rembang, Jawa Tengah.
“Saya lahir di Lampung. Orang tua saya transmigran. Nilai-nilai kerja keras dan kesederhanaan itu yang kami pegang sampai sekarang,” ujar Jihan.
Ia menyebut keberhasilan diaspora tidak terlepas dari kemampuan menjaga nilai-nilai budaya positif sekaligus beradaptasi dengan lingkungan baru. Menurutnya, diaspora harus hadir sebagai kekuatan sosial yang memberi manfaat bagi daerah tempat tinggal maupun daerah asal.
Jihan juga berharap kerja sama antara Provinsi Lampung dan Jawa Tengah terus diperkuat. Sejumlah kolaborasi lintas sektor yang telah terjalin diharapkan mampu menjadi pengungkit kesejahteraan masyarakat di kedua provinsi yang memiliki ikatan sejarah kuat melalui transmigrasi.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, yang berkunjung ke Lampung, mengaku menyaksikan langsung hasil kerja keras diaspora tersebut. Selain bertemu tokoh-tokoh sukses, ia juga menyambangi desa transmigran dan berdialog dengan warga.
“Masyarakat asal Jawa Tengah di Lampung sudah banyak yang sukses dan makmur. Mereka mampu membangun desa, beradaptasi, dan hidup berdampingan dengan masyarakat setempat,” ujar Ahmad Luthfi.
Menurutnya, falsafah “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” bukan sekadar pepatah, melainkan prinsip hidup yang menjelaskan mengapa diaspora Jawa mampu diterima dan berkembang.
“Orang Jawa di sini sangat kompetitif, tetapi juga sangat kekeluargaan. Itu modal sosial yang luar biasa,” katanya.
Kisah diaspora Jawa Tengah di Lampung menjadi potret kecil tentang Indonesia: tentang keberanian merantau, ketabahan bertahan, dan kemampuan menjadikan tanah asing sebagai rumah. Dari ladang kopi hingga kursi kepemimpinan, etos kerja dan semangat pantang menyerah menjadi benang merah kesuksesan lintas generasi. ***










