Beranda / EKBIZ / EKRAF / Event Budaya Jadi Kekuatan Pariwisata Indonesia Hadapi Tantangan Global

Event Budaya Jadi Kekuatan Pariwisata Indonesia Hadapi Tantangan Global

KABUPATEN SEMARANG, obyektif.tv – Event berbasis budaya menjadi kekuatan utama pariwisata Indonesia dalam menghadapi tantangan global, terutama di tengah dinamika geopolitik yang memengaruhi pergerakan wisatawan mancanegara.

Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggaraan Kegiatan (Event) Kementerian Pariwisata, Vinsensius Jemadu, dalam Sosialisasi Strategi Promosi dan Pemasaran Event Daerah yang digelar di The Wujil Resort & Conventions, Jumat (27/3/2026).

Vinsensius menegaskan, Indonesia masih menjadi destinasi yang relatif aman dan nyaman untuk dikunjungi. Kondisi ini menjadi peluang untuk menarik wisatawan, tidak hanya untuk berlibur, tetapi juga menghadiri berbagai event budaya.

“Dalam situasi global saat ini, Indonesia termasuk negara yang aman dan nyaman. Ini menjadi peluang bagi kita untuk menarik wisatawan, tidak hanya untuk berlibur, tetapi juga menghadiri event-event budaya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kekuatan pariwisata Indonesia terletak pada keragaman budaya yang mampu menghadirkan pengalaman unik dan autentik. Hal ini tercermin dari dominasi event berbasis budaya dalam agenda pariwisata nasional.

Melalui program Kharisma Event Nusantara (KEN), Kementerian Pariwisata menghimpun dan mempromosikan event unggulan dari berbagai daerah yang memiliki kualitas serta dampak ekonomi.

Dari sekitar 1.000 event yang diusulkan setiap tahun, dilakukan kurasi ketat oleh para ahli independen dari berbagai bidang, seperti pemasaran digital, keuangan, hingga analisis dampak dan manajemen event. Tahun ini, sebanyak 125 event terpilih masuk dalam kalender KEN.

“Lebih dari 90 persen event dalam KEN berbasis budaya, seperti festival, karnaval, dan pertunjukan seni. Ini menunjukkan bahwa budaya adalah kekuatan utama pariwisata kita,” jelasnya.

Ia menambahkan, Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi dengan kontribusi event KEN terbanyak, bersama Jawa Timur, Bali, dan Sumatra Barat. Hal ini mencerminkan potensi besar daerah dalam mengembangkan event berkualitas yang mampu menarik wisatawan sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

Menurutnya, event memiliki peran strategis sebagai instrumen penggerak ekonomi karena mampu menciptakan keramaian dan mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.

“Ketika event berlangsung, terjadi perputaran ekonomi—mulai dari konsumsi, akomodasi, hingga penjualan produk kriya dan suvenir,” katanya.

Di tengah tantangan global, termasuk berkurangnya penerbangan dari kawasan Timur Tengah dan Eropa, Kementerian Pariwisata juga melakukan penyesuaian strategi dengan mengalihkan fokus pasar ke kawasan yang lebih potensial.

“Kami melakukan shifting market ke kawasan ASEAN, Asia, dan Australia untuk mengisi potensi kehilangan wisatawan dari Timur Tengah dan Eropa,” ungkapnya.

Selain itu, penguatan wisatawan domestik juga menjadi prioritas melalui penyelenggaraan event di berbagai daerah.

“Kami ingin mendorong pergerakan wisatawan nusantara antar daerah melalui event, sehingga pariwisata tetap tumbuh di tengah tantangan global,” tambahnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *