Beranda / REGIONAL / SEMARANG / Fashion Show Batik Warga Binaan, Samuel Wattimena: Harus Eksklusif

Fashion Show Batik Warga Binaan, Samuel Wattimena: Harus Eksklusif

SEMARANG, obyektif.tv – Peringatan Hari Ibu 2025 di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Bulu Semarang diwarnai peragaan busana batik karya warga binaan, Senin (23/12/2025). Kegiatan tersebut menampilkan karya batik hasil pembinaan kreatif yang diperagakan langsung oleh warga binaan lapas.

Fashion show bertajuk Benang Cinta Ibu: Dari Balik Tangan yang Menguatkan itu menjadi ruang ekspresi sekaligus pembuktian bahwa pembinaan di dalam lapas mampu melahirkan karya bernilai dan berdaya saing.

Fashion Show Batik karya kreasi warga binaan Lapas Bulu, Semarang.

Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, menegaskan bahwa hasil karya warga binaan lapas harus memiliki karakter eksklusif agar memiliki nilai tambah dan daya saing. Menurutnya, pembinaan keterampilan di dalam lapas perlu diarahkan pada hasil yang konkret dan berkelanjutan, bukan sekadar pelatihan dasar.

“Pembinaan harus menghasilkan sesuatu yang nyata. Jika tidak diasah secara profesional, ketika mereka keluar nanti akan kembali memulai dari nol. Karena tidak semua orang bisa mengakses tempat ini, maka produk yang dihasilkan harus eksklusif,” ujar Samuel.

Ia menilai karya batik, rajut, maupun kriya lainnya perlu memiliki identitas kuat sebagai produk binaan lapas. Eksklusivitas tersebut, kata dia, dapat menjadi pembeda sekaligus nilai jual yang tidak dimiliki produk lain di luar lapas.

Samuel juga mendorong agar warga binaan dilibatkan sebagai bagian dari sistem pendukung dalam ekosistem industri kreatif dan fesyen. Proses seperti pembuatan pola, pemotongan, finishing, sulam, hingga pemasangan payet dinilai sangat memungkinkan dilakukan di dalam lapas secara fokus dan konsisten.

“Mereka bisa menjadi mata rantai produksi yang kuat. Tidak perlu dibebani pemasaran atau quality control. Cukup diperkuat sebagai supporting system atau subkontraktor,” jelasnya.

Selain menekankan aspek produksi, Samuel turut memberikan pesan motivasi kepada warga binaan agar tetap percaya pada potensi diri. Menurutnya, kreativitas tidak dibatasi oleh ruang dan situasi.
“Kreativitas itu tidak punya jeruji. Di mana pun kita berada, kita tetap bisa berkarya,” tegasnya.

Jeje (kanan) dan Biyu, warga binaan, turut memperagakan karya batik hasil kreasi warga binaan.

Salah satu warga binaan yang tampil dalam peragaan busana, Aldasari Yasmine asal Cilacap, yang didampingi warga binaan lainnya bernama Biyu, mengaku bangga dapat terlibat dalam kegiatan tersebut. Ia menyebut fashion show ini sebagai pengalaman berharga yang belum pernah dirasakannya sebelumnya.

“Sebelumnya belum pernah ada acara sebesar ini. Deg-degan dan nervous, tapi seru banget,” ungkapnya.

Perempuan yang akrab disapa Jeje itu menjelaskan bahwa warga binaan yang terlibat dipilih melalui proses seleksi, hingga terpilih enam orang sebagai model. Meski hanya menjalani dua kali latihan, ia merasa pengalaman tersebut menjadi momen berharga, terlebih karena digelar bertepatan dengan peringatan Hari Ibu.

Ia memaknai Hari Ibu sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan-perempuan hebat, khususnya para ibu.

“Buat ibu-ibu di seluruh dunia, terutama mama aku, Hari Ibu itu untuk perempuan-perempuan hebat,” tuturnya.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan pembinaan kreatif di Lapas Perempuan Semarang dapat semakin terarah dan berkelanjutan. Eksklusivitas produk binaan lapas diharapkan mampu memperkuat ekosistem ekonomi kreatif sekaligus membuka peluang kemandirian bagi warga binaan setelah kembali ke masyarakat. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *