Beranda / LIFESTYLE / SENI BUDAYA / Fiesta Folklore 2025: Pesona Budaya Nusantara dan Dunia

Fiesta Folklore 2025: Pesona Budaya Nusantara dan Dunia

SEMARANG, obyektif.tv – Kota Lama Semarang kembali semarak dengan gelaran Fiesta Folklore Nusantara 2025. Festival yang berlangsung 12–13 September 2025 ini menampilkan beragam pertunjukan budaya dari dalam dan luar negeri. Ribuan pengunjung memadati kawasan depan Gedung Marba untuk menikmati dua hari penuh nuansa seni dan tradisi.

Hari pertama festival, Jumat (12/9/2025), diwarnai parade budaya, atraksi Barongsai dan Wayang Potehi, Festival Kurta Kurti oleh Komunitas Khoja, serta penampilan sanggar-sanggar seni seperti Gendhug, Sukoreno Kendal, Sobokartti, dan Danirmala Bantul. Tari Aceh, Tari Alitlalita, Gambang Semarang Art Community, serta Komunitas Djajeng juga turut tampil. Suasana semakin meriah saat delegasi Korea Selatan menyuguhkan Taekwondo Show with Hanbok.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Wing Wiyarso Poespojoedho, menyebut penyelenggaraan tahun ini lebih istimewa karena melibatkan budaya Nusantara sekaligus internasional.

“Luar biasa Fiesta Folklore tahun ini. Tidak hanya budaya Semarang, tapi seluruh Nusantara tampil di sini. Ini persembahan bagi wisatawan yang hadir di Festival Kota Lama. Bahkan tadi teman-teman dari Korea ikut tampil, dan ke depan bisa lebih banyak lagi, termasuk Taiwan dan Jepang,” ujarnya.

Wing menegaskan, festival ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana pelestarian budaya dan diplomasi antarbangsa.

“Semarang punya program sister city dengan sejumlah kota di Korea Selatan. Melalui festival ini, kita saling memperkenalkan budaya masing-masing. Anak muda harus cinta budaya lokal, boleh saja menggemari K-Pop atau drama Korea, tapi jangan sampai lupa budaya kita sendiri yang sangat kaya,” tambahnya.

Delegasi Korea Selatan saat menampilkan teknik Kyupa dalam Taekwondo di Fiesta Folklore Nusantara 2025.

Direktur Gambang Semarang Art Company, Tri Subekso, mengaku bangga bisa tampil di panggung utama depan Gedung Marba untuk pertama kalinya.

“Sejak 2013 kami sering tampil di berbagai titik Kota Lama, tapi baru kali ini di depan Marba. Lewat pertunjukan tadi, kami ingin menunjukkan bahwa Gambang Semarang bukan hanya tari atau lagu, melainkan kesenian multikultural yang memadukan musik, tari, lawak, hingga tradisi Jawa dan Tionghoa. Inilah wajah Semarang yang sesungguhnya,” katanya.

Antusiasme juga datang dari wisatawan luar kota. Vita, pengunjung asal Cirebon, mengaku sengaja berlibur ke Semarang sekaligus menikmati festival.

“Seru banget, saya senang bisa ikut acara ini. Kebetulan sedang liburan di Semarang dan pas ada festival, jadi makin betah. Yang paling berkesan itu bagian terakhir, ketika penonton diajak menari bersama, rasanya meriah sekali,” ujarnya.

Hari kedua Fiesta Folklore Nusantara, Sabtu (13/9/2025), menghadirkan sejumlah penampilan besar, di antaranya Tari Kolosal Reog Ponorogo, Tari Piring dari Minangkabau, komunitas seni dari Kudus, Nias, dan Yogyakarta, serta tarian tradisional Jepang oleh Mai Kikuchi. Selain itu, rangkaian Royal Hanbok Exhibition, Hanbok Parade, dan Hanbok Public Lecture juga digelar pada 11–14 September 2025 di Gedung Oudetrap, melengkapi semarak festival tahunan ini. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *