SEMARANG, obyektif.tv – Hampir satu dekade lebih, Gambang Semarang Art Company (GSAC) menjadi motor penggerak pelestarian seni tradisi khas Semarang. Berdiri pada 21 November 2012 di Krapyak, komunitas ini hadir sebagai jawaban atas kekosongan ruang bagi kesenian Gambang Semarang yang sempat lama vakum.
Direktur GSAC, Tri Subekso, menjelaskan komunitas ini bermula dari embrio Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kesenian Jawa Universitas Diponegoro (Undip).
“Sebagian besar generasi awal GSAC merupakan anggota UKM Kesenian Jawa Undip. Dari situlah kami bersepakat membentuk komunitas budaya yang fokus pada pengenalan dan pengembangan kembali Gambang Semarang,” ujarnya usai tampil di Fiesta Folklore Nusantara, Jumat (12/9/2025).

Sejarah kesenian Gambang Semarang sendiri telah terentang panjang sejak 1930, dipelopori Li Hot Sun. Kala itu, Li Hot Sun melakukan studi banding ke Batavia untuk mempelajari Gambang Kromong, bahkan membeli seperangkat instrumen yang kemudian dibawa ke Semarang. Hasilnya melahirkan seni pertunjukan baru dengan nuansa khas Semarangan.
Pada 1944, tercipta lagu ikonik Empat Penari yang digubah Oei Yok Siang (musik) dan Sidik Pramono (lirik). Hingga kini, lagu tersebut melekat sebagai identitas Gambang Semarang.
Tri Subekso menambahkan, regenerasi menjadi kunci keberlangsungan GSAC.
“Karena sebagian besar anggota dari kalangan mahasiswa, masa aktif mereka relatif singkat, hanya 3–4 tahun. Maka kami membangun sistem lapisan generasi agar keberlanjutan bisa terjaga, terutama untuk penguasaan instrumen musik,” jelasnya.

Dengan pola tersebut, GSAC tetap bertahan hingga usia ke-13 dan akan memasuki tahun ke-14 pada November mendatang.
“Kami bersyukur bisa terus mewarnai kebudayaan di Kota Semarang melalui Gambang Semarang,” imbuh Tri.
Melalui upaya pelestarian yang konsisten, GSAC tak hanya menjaga warisan seni, tetapi juga menegaskan bahwa Gambang Semarang masih relevan di era kini. Dengan regenerasi yang terus berjalan, komunitas ini bertekad agar seni ikonik Kota Atlas tidak sekadar dikenang sebagai sejarah, melainkan tetap hidup dan dinikmati lintas generasi. ***










