Beranda / LIFESTYLE / SENI BUDAYA / Jejak Wayang Potehi Hadir di Pameran Jalur Sutra Maritim Semarang

Jejak Wayang Potehi Hadir di Pameran Jalur Sutra Maritim Semarang

SEMARANG, obyektif.tv – Pameran Jalur Sutra Maritim di Gedung Oudetrap, Kota Lama Semarang, yang berlangsung pada 3–8 Oktober 2025, menghadirkan beragam literasi dan artefak sejarah lintas budaya. Salah satu yang menyita perhatian pengunjung adalah literasi tentang Wayang Potehi, seni pertunjukan khas Tionghoa yang sudah lama hidup berdampingan dengan budaya Nusantara.

Wayang Potehi berasal dari Tiongkok bagian selatan. Kesenian ini dibawa oleh perantau Tionghoa ke berbagai wilayah Nusantara sejak masa lalu, dan kini diakui sebagai salah satu kekayaan seni tradisional Indonesia.

Kata Potehi sendiri terbentuk dari pou (kain), te (kantong), dan hi (wayang). Sesuai namanya, wayang ini berbentuk boneka dari kain yang dimainkan layaknya kantong dengan kelima jari. Tiga jari mengendalikan kepala, sementara ibu jari dan kelingking menggerakkan tangan. Seni pertunjukan ini telah dikenal sejak masa Dinasti Jin (265–420 M) dan terus berkembang lebih dari tiga ribu tahun.

Dalam pementasannya, Wayang Potehi biasanya dimainkan oleh lima orang, dua sebagai dalang dan tiga lainnya mengiringi dengan musik. Cerita yang dibawakan umumnya tentang legenda, kepahlawanan, maupun mitos klasik Tiongkok. Beberapa lakon yang populer antara lain Cun Hun Cauw Kok, Hong Kian Cun Ciu, Poe Sie Giok, dan Sie Jin Kwie. Saat dipentaskan di luar kelenteng, kisah yang diangkat kerap mengambil cerita-cerita rakyat yang lebih akrab bagi masyarakat, seperti Sun Go Kong (Kera Sakti), Sam Pek Eng Tay, hingga Pendekar Gunung Liang Siang.

Literasi Wayang Potehi dalam pameran ini dirangkum oleh pelaku budaya Jose Amadeus Krisna, yang menyoroti perjalanan panjang kesenian tradisional Tionghoa ini hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari seni pertunjukan Indonesia.

Kehadiran Wayang Potehi di Pameran Jalur Sutra Maritim sekaligus menegaskan bagaimana warisan budaya Tionghoa telah beradaptasi dan berkembang di Nusantara. Lebih dari sekadar tontonan, Wayang Potehi kini juga menjadi simbol persilangan budaya yang memperkaya identitas seni tradisional Indonesia. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *