KABUPATEN SEMARANG, obyektif.tv – Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kabupaten Semarang menggelar forum diskusi bersama sejumlah komunitas di Srawung Sareng, Kabupaten Semarang, Selasa (30/9/2025). Forum ini menjadi langkah awal untuk membangun jejaring lintas komunitas yang diberi nama Jejaring Kolektif Semarang-Serasi.
Hadir dalam forum tersebut Komunitas Terasara Undip, Genpi Jateng, Konten Kreator, Gunung Gajah, Komunitas Ruang Berkembang, serta beberapa perwakilan dari media.
Ketua Komite Ekraf Kabupaten Semarang, Dimas Herdy Utomo, menegaskan forum ini merupakan bentuk pertanggungjawaban sekaligus proses regenerasi komunitas kreatif di masa depan.
“Forum lintas komunitas ini kami namai Jejaring Kolektif Semarang-Serasi. Kami ingin membangun ruang bersama sebagai kawah candradimuka bagi komunitas di Kabupaten Semarang, agar bisa tergabung, terafiliasi, dan bersama-sama menggemakan karya dari akar rumput,” ujarnya.
Menurutnya, 17 subsektor ekonomi kreatif yang ada di Kabupaten Semarang melahirkan ratusan bahkan ribuan komunitas yang perlu diaktivasi. Dari komunitas film berskala kecil, komunitas sastra, seni pertunjukan, hingga komunitas berbasis kebudayaan, semua memiliki potensi untuk digerakkan.
“Doakan kami bisa mengkapitalisasi ini menjadi gerakan atau festival ekonomi kreatif yang berwawasan komunitas. Harapannya, komunitas tidak hanya melahirkan karya untuk publik, tapi juga menjadi perayaan bagi komunitas itu sendiri. Dampaknya bisa terasa ke masyarakat, lingkungan, hingga daerah,” imbuhnya.
Dimas menambahkan, jejaring ini juga disiapkan sebagai wadah regenerasi untuk melahirkan pemimpin baru di Komite Ekraf pada masa mendatang. Dengan potensi pariwisata dan seni yang melimpah, ia menilai Semarang layak memiliki program ekonomi kreatif yang lebih terstruktur.
Menurutnya, saat ini pelaku kreatif di sektor kuliner, fashion, desain grafis, fotografi, hingga film belum terakomodasi dalam kegiatan pemerintah secara berkelanjutan. Padahal, kebutuhan untuk menyeimbangkan supply dan demand di sektor kreatif sangat mendesak.
“Komite Ekraf Kabupaten Semarang ingin mengambil peran itu, agar kerja-kerja kreatif bisa berjalan seiring dengan kerja pemerintah. Misalnya Festival Rawa Pening, bisa disinergikan dengan komunitas perahu atau komunitas pemancing. Data menunjukkan ada sekitar 2.000 pemancing setiap hari di Rawa Pening, ini potensi besar jika diaktivasi,” jelasnya.
Ia juga menyoroti belum adanya festival di Kabupaten Semarang yang masuk ke dalam 100 Karisma Event Nusantara (KEN). Padahal, jika hal tersebut tercapai, manfaatnya akan langsung dirasakan masyarakat melalui dukungan lintas pemerintah pusat, provinsi, hingga daerah.
Dimas berharap gerakan ini sejalan dengan teori placemaking yang tengah didorong pemerintah, terutama dalam penataan kawasan pariwisata Rawa Pening, Kopeng, dan Borobudur.
Namun, ia menegaskan, peran pemerintah tetap sangat krusial, terutama terkait regulasi dan dukungan teknis. Meski Komite Ekraf telah terbentuk melalui SK Bupati, hingga kini belum ada Peraturan Bupati (Perbup) yang menjadi pedoman teknis pelaksanaan program ekonomi kreatif.
“Setelah ada Perda dan SK Bupati, semestinya turunannya adalah Perda Ekraf dan Perbup sebagai petunjuk teknis. Dari situ bisa jelas sumber pendanaan, mekanisme program, hingga kolaborasi lintas bidang. Hari ini, Perbup itu belum ada,” katanya.
Forum yang dihadiri sekitar 30 peserta itu, lanjut Dimas, diharapkan menjadi “bola salju” yang menggulirkan arus baru dalam pergerakan ekonomi kreatif. Meski jumlah peserta terbatas, mereka mewakili ratusan komunitas yang lebih luas.
“Di sini ada ratusan sanggar, komunitas film, konten kreator, hingga kuliner. Semua itu bisa menjadi gelombang baru kesejahteraan masyarakat berbasis ekonomi kreatif. Kami ingin ekonomi kreatif menjadi arus utama pembangunan daerah, dan pemerintah diharapkan bisa berjalan seiring,” pungkasnya.
Sebagai langkah awal, Jejaring Kolektif Semarang-Serasi dipandang bukan hanya sebagai ruang kolaborasi komunitas, tetapi juga sebagai fondasi bagi lahirnya kebijakan berbasis kreativitas. Dengan sinergi antara pelaku, komunitas, dan pemerintah, diharapkan Kabupaten Semarang mampu menegaskan diri sebagai salah satu episentrum ekonomi kreatif di Jawa Tengah. ***










