SEMARANG, obyektif.tv – Anggota Komisi VII DPR RI sekaligus pendiri Sangkar Wiku Book Club, Samuel Wattimena, mendorong agar ekosistem literasi di Kota Semarang berkembang lebih dinamis dan adaptif terhadap era digital. Hal itu disampaikan dalam kegiatan Bincang Literasi bertajuk “Ajining Pikir Saka Wacana” di Oud En Nieuw, Kota Lama Semarang, Sabtu (18/10/2025).
Dalam forum yang diinisiasi Sangkar Wiku Book Club dan Rumah Aspirasi Samuel Wattimena tersebut, Samuel menyoroti pentingnya memperkuat narasi lokal untuk mendukung sektor ekonomi kreatif, UMKM, serta pariwisata daerah. Ia menilai, lemahnya literasi dan pendataan penulis lokal membuat identitas Semarang belum tergambarkan secara utuh di level nasional.
“Saya menemukan ada 17 buku tentang Semarang, tapi sebagian besar tidak tercatat dalam pendataan nasional. Ini menunjukkan adanya missing link yang harus kita perbaiki bersama,” katanya.
Menurutnya, literasi kekinian berperan penting dalam merekam identitas zaman, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, dan ekonomi kreatif. Ia menilai para penulis lokal perlu lebih aktif mendokumentasikan realitas sosial-budaya masyarakat Semarang masa kini.
“Kalau tidak ada literasi kekinian, 10 atau 20 tahun ke depan kita akan kehilangan jejak karakter zaman ini. Data-data sosial dan budaya itu justru harus dibantu oleh para penulis,” tambahnya.
Samuel juga menyoroti pentingnya memperkaya narasi dalam mendukung produk kreatif lokal. Ia mencontohkan lemahnya deskripsi produk UMKM yang cenderung repetitif dan kurang menggugah pembaca atau pembeli.
“Kita sering membaca deskripsi produk UMKM yang hanya berbunyi ‘renyah dan gurih’. Tidak ada kekuatan narasi yang membedakan atau menghidupkan produknya,” tegasnya.
Ke depan, Samuel berencana menampung karya-karya penulis lokal di laman pribadinya dan berkolaborasi dengan sejumlah media agar tulisan-tulisan tersebut dapat diterbitkan lebih luas. Ia juga tengah mengembangkan riset kebudayaan Jawa, termasuk tema weton dan nilai-nilai kearifan lokal yang bisa menjadi bahan literasi generasi muda.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Satupena Jawa Tengah, Gunoto Saparie, menekankan bahwa tulisan memiliki kekuatan membangun identitas kota. Menurutnya, banyak penulis Semarang yang telah berkontribusi merekam memori kota lewat novel, cerpen, maupun esai.
“Tulisan-tulisan itu membentuk ikon kota. Ada yang menulis tentang Pecinan, kampung yang hilang, hingga kritik terhadap perubahan tata ruang kota. Semua itu bagian dari identitas Semarang,” jelasnya.
Gunoto juga mengajak para penulis untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan memanfaatkan platform digital agar literasi makin menjangkau pembaca muda.
“Sekarang orang lebih banyak membaca lewat gadget. Para penulis harus mampu memanfaatkan platform digital dan kecerdasan buatan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kreativitas,” ujarnya.
Acara Bincang Literasi yang dihadiri para penulis dan pegiat literasi Semarang itu turut menghadirkan penulis sekaligus jurnalis senior Kristin Samah serta Maya Dewi, co-founder Sangkar Wiku Book Club. Forum tersebut menjadi ruang dialog penting dalam memperkuat sinergi antara penulis, komunitas, dan pelaku kreatif untuk membangun narasi budaya dan identitas Semarang di era digital. ***










