Beranda / NEWS / Longsor Hantam Pandanarum, 823 Warga Mengungsi dan Dua Meninggal Dunia

Longsor Hantam Pandanarum, 823 Warga Mengungsi dan Dua Meninggal Dunia

BANJARNEGARA, obyektif.tv – Bencana tanah longsor kembali melanda Kabupaten Banjarnegara. Tebing setinggi puluhan meter di kawasan hutan pinus Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, ambrol setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut hampir tiga jam pada Minggu (16/11/2025).

Longsoran dengan diameter sekitar 100 x 100 meter itu meluncur deras ke permukiman warga di RT 1 hingga RT 4 RW 03. Material tanah, batu, dan kayu menerjang rumah-rumah yang berada tepat di bawah tebing, menyebabkan kerusakan parah.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mencatat sebanyak 823 jiwa telah mengungsi ke halaman Kantor Kecamatan Pandanarum hingga Senin (17/11) pukul 08.37.

Dua warga dilaporkan meninggal dunia. Satu korban menghembuskan napas terakhir di RSUD Banjarnegara, sedangkan satu lainnya ditemukan meninggal di sekitar lokasi longsor pada pukul 07.48. Puluhan warga lain masih dilaporkan terjebak dan diduga berada di kawasan hutan, berdasarkan keterangan keluarga dan warga sekitar. Tim SAR masih melakukan pencarian dan evakuasi.

BPBD Jateng dan Kabupaten Banjarnegara bersama relawan, TNI-Polri, serta Forkopimcam telah mendirikan tenda pengungsian, dapur umum, pos lapangan, dan layanan kesehatan darurat. Berbagai bantuan mendesak mulai disalurkan, mulai dari logistik makanan, selimut, matras, perlengkapan kebersihan, pakaian anak, air mineral, hingga peralatan pendukung posko seperti laptop dan printer.

Assessment lanjutan terus dilakukan mengingat kondisi tebing masih labil dan curah hujan yang tinggi berpotensi memicu longsor susulan. Wilayah sekitar pun berada dalam status kewaspadaan tinggi.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi memastikan penanganan dilakukan terpadu sejak laporan bencana diterima.

“Informasi awal berkembang, ada lebih dari 800 masyarakat terdampak. Sebanyak 26 warga masih diduga berada di hutan karena kejadiannya mendadak. Ada juga yang kemungkinan tertimbun,” tegas Luthfi.

Ia menyampaikan, pencarian diperkuat bersama Pangdam, Basarnas, dan BNPB.

“Hari ini pencarian dilakukan by name by address. Kami bentuk klaster pengungsi, logistik, sarpras, dan kesehatan agar penanganan lebih cepat dan terarah,” ujarnya.

Bantuan dari Pemerintah Provinsi Jateng juga mulai dikirim.

“Untuk Banjarnegara, kami siapkan lebih dari Rp 700 juta. Sebelumnya hampir Rp 400 juta dialokasikan untuk Cilacap,” kata Luthfi.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan mengingat banyaknya daerah rawan longsor di Jateng.

“Jawa Tengah ini minimarket bencana. Ada wilayah-wilayah yang harus diantisipasi: Batang, Kendal, Wonosobo, Banjarnegara, Brebes–Bumiayu, Magelang, Temanggung. Potensi gerakan tanah tinggi, perlu pencegahan dini,” ujarnya.

Pemprov Jateng juga akan menggelar rapat terbatas untuk memperkuat mitigasi jangka menengah dan panjang.

Sementara itu, data bantuan dari OPD dan BUMD Jateng yang telah masuk tercatat mencapai Rp 385,48 juta. Di antaranya logistik dari Dinas Sosial senilai Rp 239,35 juta, dua ton beras dari Dinas Ketahanan Pangan senilai Rp 27 juta, serta obat-obatan dari Dinas Kesehatan senilai Rp 11,91 juta. Dukungan BUMD meliputi logistik dari BPR BKK Mandiraja senilai Rp 15,5 juta, tiga ton beras dari Bank Jateng senilai Rp 45 juta, serta bantuan logistik dari BPBD Jateng senilai Rp 46,72 juta.

Selain itu, Pemprov Jateng juga menyiapkan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp 450 juta untuk membantu perbaikan rumah warga yang tertimbun atau rusak total. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *