Beranda / LIFESTYLE / SENI BUDAYA / Mahakarya Goa Kreo Tampilkan Kekuatan Tradisi di Tengah Mordenisasi

Mahakarya Goa Kreo Tampilkan Kekuatan Tradisi di Tengah Mordenisasi

SEMARANG, obyektif.tv – Ratusan penari dan seniman lintas generasi menampilkan pertunjukan kolosal bertajuk Mahakarya Legenda Goa Kreo di Plaza Kandri, Kecamatan Gunungpati, Semarang, Jumat (27/3/2026) malam. Pementasan ini mengangkat kisah perjalanan spiritual Sunan Kalijaga dalam mencari kayu jati sebagai tiang (soko) Masjid Agung Demak pada masa kejayaan Kesultanan Demak di bawah kepemimpinan Raden Patah.

Pertunjukan ini dikemas dalam bentuk drama tari kolosal yang melibatkan hampir 160 penari, pemusik, dan tim kreatif. Sejumlah kelompok seni yang terlibat antara lain Tirang Community, Sanggar Sobokarti, Sanggar Pewira Budaya, Sanggar Sekar Arum, Ngesti Pandhawa, mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes), serta para pelaku seni Kota Semarang. Garapan ini disutradarai oleh Budi Lee.

Cerita diawali dengan runtuhnya peradaban Kerajaan Majapahit yang kemudian berganti menuju era Kesultanan Demak. Dalam alur tersebut, sosok Raden Sahid digambarkan tengah mencari jati diri hingga akhirnya menjadi tokoh penting dalam penyebaran Islam dengan gelar Sunan Kalijaga.

Dalam kisah yang ditampilkan, Sunan Kalijaga mendapat amanah sebagai utusan untuk mencari soko jati sebagai penopang pembangunan Masjid Agung Demak. Perjalanan tersebut tidak hanya menggambarkan perjuangan fisik, tetapi juga nilai spiritual dan kebijaksanaan dalam menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa.

Pementasan ini juga menampilkan legenda tentang peran para kera (rewanda) yang membantu Sunan Kalijaga mengangkut kayu jati. Konon, para kera tersebut kemudian menetap di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Goa Kreo. Hingga kini, masyarakat setempat masih melestarikan tradisi Sesaji Rewanda, yakni prosesi pemberian buah-buahan kepada kera sebagai bentuk penghormatan terhadap legenda tersebut.

Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, yang hadir dalam acara tersebut mengapresiasi konsep pertunjukan yang dinilai mampu mengangkat tradisi secara kuat dan melibatkan masyarakat luas.

Ia menilai penggunaan bahasa Indonesia dalam pementasan menjadi nilai lebih karena memudahkan pemahaman penonton. Selain itu, keterlibatan seniman profesional dan masyarakat umum menunjukkan tingginya partisipasi publik dalam menjaga tradisi.

“Ini menunjukkan bahwa tradisi seperti ini sangat layak untuk dipertahankan. Di luar negeri, teknologi sudah banyak mengambil alih pertunjukan, tetapi di sini dengan segala keterbatasan, justru kekuatan tradisi tetap bisa menonjol,” ujarnya.

Samuel juga menekankan pentingnya publikasi yang lebih luas, terutama melalui media sosial, agar pertunjukan serupa dapat menjangkau audiens yang lebih besar.

“Ke depan, publikasi harus diperkuat. Tidak hanya untuk masyarakat di Gunungpati, tetapi juga bisa menjangkau wilayah yang lebih luas, bahkan di tingkat nasional,” tambahnya.

Melalui pertunjukan ini, Mahakarya Legenda Goa Kreo tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan yang merefleksikan perjalanan sejarah, nilai spiritual, serta kearifan lokal yang terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *