Beranda / REGIONAL / SEMARANG / Metamorfosis Kreativitas melalui Lomba Lukis Kipas dan Payung

Metamorfosis Kreativitas melalui Lomba Lukis Kipas dan Payung

SEMARANG, obyektif.tv – Kegiatan Lomba Melukis Kipas dan Payung yang digelar di Uptown Mall BSB, Kota Semarang, pada 18–19 Oktober 2025 mendapat apresiasi dari Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar ajang seni, tetapi juga sarana penguatan ekonomi kreatif dan promosi desa wisata.

Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, yang hadir dalam kegiatan tersebut, menilai lomba ini menjadi simbol “metamorfosis kreativitas” masyarakat. Menurutnya, kegiatan semacam ini tidak hanya menghidupkan seni rupa, tetapi juga memberi nilai tambah bagi pengembangan ekonomi kreatif.

“Saya senang sekali bahwa di Semarang juga menyelenggarakan lomba lukis payung. Ini awalnya berkembang di Solo, tapi saya melihat tidak ada batasan bahwa festival payung hanya milik satu daerah saja. Justru kalau bisa diduplikasi di berbagai daerah, ini menunjukkan semangat gotong royong dalam bentuk kreativitas,” ujarnya, saat menghadiri kegiatan lomba lukis kipas dan payung tersebut, Minggu (19/10/2025).

Samuel menilai pemilihan media kipas dan payung sangat tepat, karena keduanya memiliki fungsi penting di negara tropis sekaligus potensi ekonomi tinggi. “Kalau setiap desa wisata bisa mengembangkan motif kipas dan payung khas mereka, tentu akan muncul keragaman identitas lokal yang bisa menjadi sarana promosi wisata dan sumber ekonomi kreatif bagi UMKM,” tambahnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga keberagaman motif dan warna sebagai kekuatan budaya Indonesia.

“Kita jangan menseragamkan keragaman. Setiap etnik punya puncak kreativitasnya sendiri,” tegasnya.

Samuel menggambarkan ajang ini sebagai proses metamorfosis.

“Saya melukis kupu-kupu, karena lomba ini seperti metamorfosis — dari kepompong menjadi kupu-kupu. Ini langkah awal yang bagus untuk kebangkitan kreativitas di tingkat lokal,” ujarnya.

Menurutnya, penyelenggaraan di pusat perbelanjaan juga merupakan langkah strategis.

“Tradisi harus ditularkan ke pengunjung mall supaya mereka sadar bahwa di sekitar lingkungan modern pun ada potensi seni dan budaya yang luar biasa,” katanya.

Dari Mall ke Desa Wisata

Koordinator penyelenggara lomba, Teo Rudy, menjelaskan kegiatan ini merupakan inisiatif Pemerintah Kota Semarang melalui Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti.

“Beliau ingin ekonomi kreatif tumbuh melalui industri seni rupa, seperti melukis kipas, payung, atau media lainnya,” ujarnya.

Dari Total peserta Lomba lukis kipas dan payung kali ini mencapai 400 orang, terdiri atas 200 peserta lomba kipas dan 200 peserta lomba payung.

“Antusiasme peserta luar biasa. Mereka berharap kegiatan ini bisa menjadi agenda tahunan dengan inovasi media yang berbeda setiap kali,” tambahnya.

Hasil karya peserta rencananya akan dipamerkan dan dijadikan merchandise untuk tamu-tamu pemerintah Kota Semarang.

“Karya ini bisa menjadi pengalaman dan identitas bagi desa wisata yang ada di Semarang,” jelasnya.

Uptown Mall Jadi Ruang Kreatif

Di sisi lain, penyelenggara kegiatan, Mutiara, menyebut tujuan utama lomba ini adalah memberi ruang bagi masyarakat untuk menyalurkan kreativitas dan melahirkan talenta baru.

“Kami ingin event ini bisa menampung karya seni masyarakat Kota Semarang dan menjadikannya bagian dari ciri khas kota,” ungkapnya.

Ia berharap Uptown Mall dapat menjadi ruang publik yang terbuka bagi berbagai bentuk seni. “Kedatangan Pak Samuel sangat kami sambut baik. Kami berharap ada kolaborasi lanjutan antara pemerintah kota, pelaku seni, dan pusat perbelanjaan agar Uptown Mall bisa menjadi rumah bersama bagi masyarakat untuk terus berkarya,” ujarnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *