Beranda / LIFESTYLE / MUSIK / Musik Indie Semarang Dorong Ruang Ekspresi dan Penguatan Manajemen

Musik Indie Semarang Dorong Ruang Ekspresi dan Penguatan Manajemen

SEMARANG, obyektif.tv – Komunitas musik indie di Semarang menekankan pentingnya ruang berekspresi dan penguatan manajemen untuk mengembangkan ekosistem seni kreatif kota ini. Hal tersebut mengemuka dalam gelaran SCC Talk yang diinisiasi Semarang Creative Consorsium di Rumah Pohan, Kawasan Kota Lama Semarang, Jumat (27/2/2026).

Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, yang menjadi salah satu narasumber, mengatakan dialog bersama komunitas musik lokal membuka perspektif barunya terhadap ekosistem musik indie di Semarang.

“Bagi para pemusik indie, yang utama bukan penghasilan, tetapi bagaimana mereka bisa berekspresi melalui musik. Di Semarang, ruang ekspresi seperti ini masih sangat terbatas karena fokus kota selama ini lebih pada seni tradisi,” ujar Samuel.

Ia menilai kondisi tersebut merupakan potensi yang perlu difasilitasi. Menurutnya, sebagai ibu kota Jawa Tengah, Semarang semestinya memberi ruang yang setara bagi berbagai bentuk ekspresi seni, termasuk musik indie.

Samuel juga menyoroti pentingnya koordinasi antar-lembaga pendukung ekosistem kreatif, seperti Dewan Kesenian, SCC, dan Komite Ekonomi Kreatif (KEK). “Koordinasi ini penting. Tanpa komunikasi yang jelas, berbagai peluang dan dukungan bisa tidak maksimal,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua SCC, Tries Supardi, menjelaskan bahwa SCC Talk kali ini menitikberatkan pada pembangunan ekosistem seni kreatif yang sehat dan kolaboratif.

“Forum ini mendorong kerja kolaboratif, kebijakan yang berpihak pada pelaku seni, serta ruang ekspresi yang lebih mendukung. Kami juga menghadirkan narasumber lintas subsektor untuk berbagi pengalaman, termasuk bagaimana menembus panggung internasional,” katanya.

Menanggapi anggapan bahwa musik Semarang lesu, Tries, yang juga Koordinator Jejaring Kedungsepur Komite Ekonomi Kreatif Jawa Tengah, menegaskan bahwa aktivitas bermusik di kota ini tetap berjalan. Sejumlah komunitas aktif tampil, memproduksi karya, hingga melakukan roadshow ke berbagai kota dan luar negeri. Namun, tantangan terbesar masih terletak pada aspek manajerial.

“Banyak musisi mengerjakan semuanya sendiri, mulai dari produksi lagu hingga promosi. Idealnya, musisi fokus berkarya, sementara manajer yang menangani promosi, pertunjukan, dan kerja sama antar-subsektor,” jelasnya.

Dalam forum tersebut, hadir pula personel band inklusi asal Tembalang, The Harfest. Salah satu personelnya, Husein Moch Atthariq, menilai musik Semarang memiliki kualitas yang baik, meski belum tertata secara sistematis.

“Yang dibutuhkan adalah promosi yang lebih efektif agar karya bisa dilihat lebih luas, termasuk melalui media sosial seperti TikTok atau live streaming pertunjukan,” ujarnya.

The Harfest terdiri dari dua personel penyandang difabel dan menjadi contoh praktik inklusi dalam komunitas musik lokal. Nama The Harfest sendiri memiliki makna “Panen Karya”, sebagai harapan agar mereka dapat terus melahirkan karya-karya musik. Hingga kini, mereka telah merilis lagu berjudul Langit Sore dan Asa Luar Biasa, yang juga sempat dimainkan dalam forum ini.

Personel lainnya, Hamdah Rahma Cilla Farah Evita, menambahkan bahwa menjaga semangat berkarya menjadi kunci keberlanjutan musisi. “Kalau ada kejenuhan, istirahat itu penting. Mencari inspirasi baru juga penting supaya tetap semangat dan tidak kehilangan arah dalam berkarya,” tuturnya.

Selain Samuel, forum ini juga menghadirkan Dzul Fawaid Ahmad (Pipeng) dari Studio Barkah yang juga personel grup musik Sunlotus, serta dimoderatori seniman Semarang Kesit Wijanarko. Kegiatan tersebut dihadiri puluhan pelaku seni dan komunitas musik lokal sebagai wadah diskusi dan penguatan jejaring kreatif.

Diskusi ini menjadi titik awal konsolidasi antar-pelaku seni, komunitas, dan pemangku kebijakan untuk membangun ekosistem yang lebih terintegrasi. Kolaborasi yang terarah dinilai menjadi kunci agar musik Semarang tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang secara berkelanjutan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *