KABUPATEN SEMARANG, obyektif.tv – Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Semarang menegaskan komitmennya untuk menjaga dan mengaktualisasikan Pancasila serta Marhaenisme sebagai fondasi ideologi bangsa di tengah tantangan sosial, politik, dan demokrasi yang kian kompleks. Penegasan tersebut disampaikan melalui sarasehan bertajuk “Pancasila dan Marhaenisme sebagai Pondasi Ideologi untuk Menjawab Tantangan Zaman” yang digelar di Kafe Sasame, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Minggu (4/1/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang dialog ideologis lintas generasi antara alumni, kader muda, serta elemen masyarakat sipil. Sarasehan juga mendapat dukungan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Semarang sebagai bagian dari sinergi pemerintah daerah dengan organisasi kemasyarakatan dalam penguatan wawasan kebangsaan dan demokrasi.
Ketua Panitia, Riksa Yoga, menyampaikan bahwa PA GMNI memandang penguatan ideologi Pancasila dan Marhaenisme sebagai kebutuhan mendesak di tengah menguatnya pragmatisme politik, polarisasi sosial, serta krisis etika publik. Menurutnya, ideologi tidak boleh berhenti sebagai simbol, tetapi harus hidup dalam cara berpikir dan bertindak.
“Pancasila dan Marhaenisme harus terus dihidupkan sebagai nilai praksis. Dukungan Kesbangpol Kabupaten Semarang menjadi energi penting bagi PA GMNI untuk terus menghadirkan ruang dialog ideologis yang sehat dan konstruktif,” kata Riksa Yoga.
Sarasehan menghadirkan sejumlah narasumber yang membahas ideologi dari perspektif gerakan, demokrasi, dan kelembagaan negara. Senior GMNI sekaligus Pembina Keluarga Besar Marhaen (KBM), Sucipto, menegaskan bahwa Pancasila sebagai dasar negara bersifat dinamis dan harus terus dikontekstualisasikan sesuai perkembangan zaman.
Ia menekankan bahwa Marhaenisme merupakan ajaran keberpihakan yang lahir dari realitas rakyat kecil dan menjadi kritik terhadap sistem sosial yang menimbulkan ketimpangan.
“Marhaenisme bukan romantisme sejarah, melainkan keberanian untuk berpihak. Di tengah ketimpangan sosial dan ekonomi hari ini, nilai-nilai itu justru semakin relevan sebagai panduan ideologis,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Komisi Informasi Provinsi Jawa Tengah, Indra Ashoka Mahendrayana, mengaitkan Pancasila dengan tantangan demokrasi di era keterbukaan informasi. Ia menilai derasnya arus informasi digital harus diimbangi dengan nilai ideologis agar demokrasi tidak kehilangan arah dan substansinya.
“Keterbukaan informasi publik merupakan bagian dari demokrasi Pancasila. Ketika masyarakat memperoleh akses informasi yang benar dan adil, partisipasi publik akan tumbuh secara sehat dan kritis,” ujarnya.
Pembicara lainnya, Komisioner Bawaslu Kota Salatiga sekaligus mantan Sekretaris Jenderal GMNI periode 2013, Bintar Lulus P, menyoroti pentingnya nilai Pancasila dan Marhaenisme sebagai landasan etis dalam demokrasi elektoral. Menurutnya, tanpa fondasi ideologi yang kuat, demokrasi mudah terjebak pada praktik politik transaksional dan kepentingan jangka pendek.
“Pengawasan pemilu bukan sekadar tugas administratif, tetapi tanggung jawab moral. Ideologi harus menjadi kompas agar demokrasi tetap berpihak pada kepentingan rakyat,” jelasnya.
Diskusi dipandu oleh Wakil Ketua DPC PA GMNI Kabupaten Semarang, Dimas Herdy Utomo, yang menekankan pentingnya dialog lintas generasi agar ideologi tidak berhenti sebagai wacana, melainkan terus hidup dalam praktik sosial, gerakan, dan kebijakan publik.
Sarasehan ini dihadiri oleh anggota DPC PA GMNI Kabupaten Semarang, kader GMNI dari Komisariat UIN Salatiga, UNIMUS, dan UNISSULA Semarang, perwakilan GMNI Cabang Semarang, mahasiswa Universitas Ngudi Waluyo Ungaran, Ketua Bawaslu Kabupaten Semarang, Komunitas Juang, serta keluarga besar Marhaen.
Diskusi berlangsung hangat dan dinamis dengan partisipasi aktif peserta yang menyampaikan pandangan kritis terkait aktualisasi Pancasila dan Marhaenisme dalam konteks lokal maupun nasional.
Melalui kegiatan ini, PA GMNI Kabupaten Semarang menegaskan posisinya sebagai bagian dari kekuatan masyarakat sipil yang konsisten menjaga, merawat, dan memperjuangkan nilai-nilai ideologis bangsa. Dengan dukungan Kesbangpol Kabupaten Semarang, PA GMNI berharap sarasehan ini menjadi pemantik bagi agenda-agenda kebangsaan yang berkelanjutan dan berdampak luas bagi masyarakat. ***










