SEMARANG, obyektif.tv – Pelantikan Pengurus Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Pejuang Marhaenis Nusantara (PMN) Jawa Tengah periode 2025–2030 menjadi momentum penting untuk memperkuat perjuangan Marhaenisme di tengah tantangan zaman dan derasnya arus budaya asing yang kian menggerus jati diri bangsa. Melalui penguatan ideologi Bung Karno tersebut, PMN menegaskan komitmennya untuk terus berpihak kepada rakyat kecil dan memperjuangkan keadilan sosial.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelantikan pengurus DPP PMN Jawa Tengah yang digelar di Wisma Perdamaian, Kota Semarang, Minggu (11/1/2026). Prosesi pengukuhan dilakukan langsung oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) PMN, Heru Subiyantoro, dan dihadiri jajaran pengurus serta kader PMN dari berbagai daerah. Mengusung tema “Together We Can, Bersama Kita Bisa” sebagai penegasan semangat persatuan dan gotong royong dalam menjalankan peran organisasi di tengah dinamika sosial masyarakat.
Ketua DPP PMN Jawa Tengah, Puji Krisdyantoro, mengatakan kepengurusan periode 2025–2030 merupakan kelanjutan dari periode sebelumnya, sekaligus momentum pembaruan untuk memperkuat peran organisasi di berbagai sektor strategis.
“Dalam kepengurusan ini terdapat tujuh wakil ketua bidang, di antaranya bidang politik, pelayanan, kesejahteraan, pendidikan, hukum, dan humas. Seluruhnya akan bergerak bersama, bersinergi dengan pemerintah, untuk menjalankan roda organisasi dengan satu kata kunci, yaitu kebersamaan,” ujarnya.
Menurut Kristo, sapaan akrabnya, PMN Jawa Tengah berkomitmen hadir di berbagai lini kehidupan masyarakat dengan menjadikan nilai-nilai Marhaenisme sebagai landasan gerak. Prinsip keberpihakan kepada wong cilik, kemandirian, serta gotong royong dinilai tetap relevan dalam menjawab persoalan sosial, ekonomi, maupun kebudayaan.
“Together we can, bersama kita bisa. Di semua lini kita bisa masuk untuk kebersamaan dan kemaslahatan masyarakat, khususnya di Jawa Tengah. Dari daerah kita kuatkan, dan secara nasional Indonesia juga bisa,” tegasnya.
Kristo menekankan pentingnya keterlibatan aktif seluruh jajaran pengurus hingga tingkat kabupaten dan kota. Ia berharap sinergi antara struktur organisasi dan pemerintah dapat berjalan secara dua arah, dari atas ke bawah maupun dari bawah ke atas, guna memperkuat peran PMN di tengah masyarakat.
“Penguatan dari akar rumput harus muncul. Jiwa korsa Marhaen se-Jawa Tengah harus hidup. Gotong royong menjadi napas perjuangan kita untuk mencapai kesejahteraan bersama, sekaligus membuka ruang seluas-luasnya bagi seluruh unsur masyarakat untuk bergabung dalam organisasi,” katanya.
Lebih lanjut, Kristo menilai kepengurusan baru yang diisi oleh tenaga dan semangat baru ini menjadi modal penting bagi PMN Jawa Tengah untuk semakin progresif dan adaptif terhadap perubahan zaman. Ia optimistis, dalam lima tahun ke depan, PMN Jawa Tengah dapat berkontribusi lebih besar dalam mendukung pembangunan daerah.
“Selama lima tahun ke depan, PMN Jawa Tengah harus lebih jaya, selalu membersamai pemerintah yang ada, dan yang terpenting hadir serta berjuang bersama rakyat Jawa Tengah,” pungkasnya.
Pelantikan ini menegaskan kembali posisi PMN sebagai organisasi ideologis yang konsisten menjunjung tinggi nilai-nilai Marhaenisme—keberpihakan kepada rakyat kecil, persatuan, kemandirian, dan gotong royong—sebagai fondasi utama dalam membangun keadilan sosial serta menjaga jati diri bangsa di tengah arus globalisasi. ***










