SEMARANG, obyektif.tv – Teater Buih Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) kembali menghidupkan panggung seni lewat Pentas Produksi 2025 berjudul “Dhemit”. Pertunjukan yang digelar di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Kamis (25/9/2025), tak hanya menjadi tontonan, tetapi juga sarana menyampaikan pesan sosial dan lingkungan melalui balutan cerita mistis.
Pimpinan Produksi, Nurul Izzah Salsabila, menjelaskan bahwa pentas ini dihadirkan untuk menjaga keberlangsungan teater di Semarang sekaligus menyampaikan kritik sosial dengan cara yang halus.
“Kami ingin meningkatkan eksistensi teater di Kota Semarang. Pesan yang kami bawa disampaikan lewat seni, khususnya teater. Ceritanya sendiri mengangkat isu eksploitasi lingkungan yang digambarkan lewat sosok-sosok dhemit atau makhluk gaib dengan cara yang unik,” ungkapnya.
Teater Buih berdiri sejak 1980-an dan tahun ini genap berusia 45 tahun. Momentum tersebut juga dirayakan dengan reuni para alumni yang turut hadir mendukung pementasan.
Apresiasi tinggi datang dari Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Samsul Bahri, yang hadir mewakili Wali Kota. Ia menilai kreativitas mahasiswa FEB Undip menjadi bukti bahwa seni bisa dikemas dengan segar sekaligus relevan dengan kondisi masyarakat.
“Ceritanya memang berjudul Dhemit, yang identik dengan hal menakutkan, tapi justru ditampilkan dengan cara yang lucu dan menghibur. Pesannya juga kuat, soal penebangan pohon beringin yang bisa berdampak banjir. Ini menjadi pengingat bagi pemerintah agar lebih berhati-hati dalam menjaga lingkungan,” jelasnya.
Ia menambahkan, Pemkot Semarang mendukung penuh kegiatan ini. Bahkan, tiket pertunjukan diberikan gratis sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan seni budaya di kota ini.
“Harapannya kegiatan semacam ini tidak berhenti di sini, tetapi bisa menjadi agenda tahunan. Pesan untuk generasi muda, khususnya mahasiswa, teruslah berkarya untuk Semarang dan Indonesia,” tambahnya.
Sementara itu, Hanifah Nur Aini, Ketua Teater Buih sekaligus Asisten Produksi, berharap karya ini menjadi pijakan untuk langkah yang lebih besar.
“Semoga Teater Buih semakin jaya dan bisa menampilkan pentas lebih besar dari tahun ke tahun. Untuk generasi muda, jangan berhenti berkarya, terus semangat,” ujarnya.

Sebelumnya, rangkaian Pentas Produksi 2025 juga dimeriahkan dengan sejumlah penampilan. Diantaranya aksi stand up comedy dari Aji Wibowo, mahasiswa Universitas Negeri Semarang. Materi yang ia bawakan seputar kehidupan kampus dan isu sosial yang ringan berhasil memancing tawa sekaligus menghadirkan keakraban di tengah penonton.
Suasana kemudian berubah syahdu saat kelompok ID Management naik ke panggung dengan musikalisasi puisi. Perpaduan kekuatan kata dan alunan musik menciptakan harmoni yang menyentuh, membuat penonton hanyut dalam lantunan yang penuh makna. Pesan-pesan yang disampaikan terasa kuat, sekaligus menggugah perasaan.
Nuansa budaya semakin terasa dengan hadirnya tarian tradisional Jawa yang dibawakan Eva dan Ima dari Kesenian Jawa Undip. Gerakan gemulai yang sarat makna memperlihatkan keanggunan sekaligus kekayaan tradisi Jawa. Di sela-sela pertunjukan, panitia juga membagikan sejumlah doorprize menarik, menambah semangat penonton hingga akhir acara.
Dengan perpaduan cerita mistis yang dikemas jenaka, pesan lingkungan yang relevan, serta ragam penampilan seni yang memikat, Pentas Produksi 2025 “Dhemit” tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga ruang refleksi bersama. Kehadiran Teater Buih yang sudah empat setengah dekade berkarya membuktikan bahwa seni pertunjukan masih mampu menjadi medium penting dalam menyuarakan isu-isu masyarakat, sekaligus menjaga semangat kreativitas generasi muda di Kota Semarang. ***










