KABUPATEN SEMARANG, obyektif.tv – Prosesi Ndhodog Rawa digelar di Bukit Cinta, Banyubiru, Sabtu (23/11/2025), sebagai bagian dari persiapan aktivasi kawasan dan Festival Ekonomi Kreatif serta Desa Wisata Kabupaten Semarang yang akan berlangsung pada 6–7 Desember 2025. Tradisi yang dipimpin juru kunci Rawa Pening, Mbah Midi, ini diikuti perwakilan dari Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang, komunitas Jejaring Kolektif Semarang Serasi, serta pemerhati sejarah dan tokoh masyarakat.
Pada prosesi itu, seluruh peserta mengenakan busana adat sederhana—lurik, jarik, dan ikat kepala—sebagai bentuk penghormatan pada budaya Jawa. Mereka berjalan tanpa alas kaki menuju area ritual, simbol penyatuan diri dengan tanah dan alam yang menaungi Rawa Pening. Ndhodog Rawa dipanjatkan sebagai permohonan restu kepada Sang Pencipta agar rangkaian pengembangan kawasan Bukit Cinta serta Festival Ekonomi Kreatif dan Desa Wisata pada 6–7 Desember mendatang berjalan lancar dan membawa manfaat bagi masyarakat.
Pemerhati sejarah dan tokoh masyarakat setempat, Pandiman, menegaskan pentingnya menjaga tradisi tersebut.
“Rawa Pening bukan sekadar lokasi wisata, tetapi ruang dengan lapisan sejarah panjang terkait kehidupan masyarakat dari hulu hingga hilir,” ujarnya.
Menurutnya, prosesi Ndhodog Rawa menjadi titik temu antara ritual budaya, pengetahuan sejarah, dan dinamika masyarakat modern yang kini membangun ekosistem kreatif berkelanjutan.
Dalam prosesi itu, para peserta membawa sesaji berupa bunga, hasil bumi, dan makanan tradisional sebagai simbol rasa syukur. Sesaji tersebut mencerminkan hubungan manusia dengan alam yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Jawa. Barisan perahu tradisional berwarna cerah yang tampak di belakang peserta menambah ciri khas pemandangan Rawa Pening, sekaligus menegaskan bahwa kawasan itu menjadi sumber ekonomi masyarakat dan memiliki potensi wisata besar.
Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang, Dimas Herdy Utomo, menyampaikan bahwa prosesi Ndhodog Rawa menjadi refleksi penting dalam perjalanan pengembangan Bukit Cinta.
“Tradisi ini mengingatkan kita bahwa pembangunan tidak bisa dilepaskan dari nilai budaya, sejarah, dan hubungan manusia dengan alam. Kehadiran para pemerhati sejarah seperti Pak Pandiman memberi dimensi penting agar pengembangan kawasan tetap selaras dengan nilai leluhur,” ungkapnya.
Ia berharap aktivasi Bukit Cinta dan penyelenggaraan festival berlangsung lancar, aman, dan membawa kebaikan bagi masyarakat Kabupaten Semarang.
Prosesi Ndhodog Rawa menjadi penutup rangkaian persiapan berbasis kearifan lokal, sekaligus pengingat bahwa harmonisasi budaya, alam, dan kreativitas menjadi fondasi pengembangan Bukit Cinta sebagai ruang publik yang hidup dan berkelanjutan. ***










