SEMARANG, obyektif.tv – Panggung Lagi Lagi Festival Vol.2 di PRPP Semarang, Sabtu (4/10/2025), bergemuruh ketika grup punk rock asal Yogyakarta, Rebellion Rose, tampil dengan energi penuh. Sejak awal penampilan, band yang digawangi Fyan Sinner (vokal), Gilang Sandi atau Ceking (drum), Fahmi Muzaki atau Amek (gitar), dan Ryan (bass) itu langsung memanaskan suasana dengan lagu-lagu berisi pesan kemanusiaan dan solidaritas.
Mereka membuka penampilan dengan Sehat Selalu Sodaraku, lagu yang mengusung semangat persaudaraan khas Rebellion Rose. Atmosfer berubah lebih emosional ketika lagu Barisan Juang dikumandangkan — sebuah penghormatan untuk mengenang Tragedi Kanjuruhan.
Di sela lagu tersebut, Fyan Sinner menyampaikan pesan menyentuh yang menggugah kesadaran penonton.
“Adalah wajib bagi kita untuk terus menderaskan doa-doa terbaik bagi korban dan keluarga yang ditinggalkan. Terus rawat ingatan kita bersama, dan semoga tidak ada lagi kejadian serupa di kemudian hari. Jangan pernah berhenti berbicara tentang Kanjuruhan. Justice for Kanjuruhan,” serunya disambut gemuruh tepuk tangan para Comrades—sebutan untuk penggemar Rebellion Rose.
Sorak dukungan dan nyanyian penonton pun menggema, menunjukkan kuatnya solidaritas komunitas musik terhadap tragedi kemanusiaan itu.
Momen reflektif berlanjut saat mereka membawakan Bermalam Bintang Di tengah lagu, Fyan menyerukan pentingnya menciptakan ruang aman di dunia musik.
“Tidak ada ruang bagi pelaku pelecehan seksual di arena ini. Mari bahu-membahu menciptakan ruang aman dan nyaman untuk semuanya, terutama bagi teman-teman wanita tangguh yang ada di arena,” tegasnya.
Suasana kemudian kembali bergemuruh lewat Akulah Peluru, yang dinyanyikan oleh drummer Gilang Sandi, menambah variasi dan warna dalam performa mereka. Lagu-lagu berikutnya seperti Hanya Cinta yang Dapat Tumbuh di Sini dan Terima Kasih memperkuat karakter Rebellion Rose sebagai band yang menggabungkan semangat perlawanan dengan empati sosial.
Sebelum membawakan Terima Kasih, Fyan kembali menyampaikan pesan penuh makna tentang kehilangan dan perjuangan hidup.
“Kami tahu rasanya rindu pelukan orang tua. Respect tertinggi kami untuk teman-teman yang masih berjuang tanpa keduanya. Terbangkan doa terbaik untuk mereka, niscaya langit akan terbuka merahmati kalian,” tuturnya.
Menjelang akhir penampilan, Rebellion Rose membawakan Di Sayidan milik Shaggy Dog yang langsung disambut sing-along meriah dari penonton, sebelum menutup set mereka dengan Aku, Kamu dan Samudra.
Dengan energi panggung yang eksplosif dan pesan kemanusiaan yang menyentuh, Rebellion Rose membuktikan bahwa musik punk bukan sekadar teriakan perlawanan, melainkan juga wadah untuk menyuarakan nilai-nilai moral, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama. ***










