SEMARANG, obyektif.tv – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kesenian Jawa Universitas Diponegoro (UNDIP) menampilkan karya teater tradisi bertajuk “Retas Lara” dalam ajang Pentas Apresiasi Seni 2025 di Taman Budaya Raden Saleh, Kota Semarang, Sabtu (25/10/2025) malam. Pertunjukan ini memadukan unsur drama, tari, dan musik tradisional dalam kisah yang sarat pesan moral tentang cinta, obsesi, dan keikhlasan.
Disutradarai oleh Haliza Nima Ajrul Amalin, pementasan “Retas Lara” mengadaptasi kisah klasik Serat Menak Cina, yang berkisah tentang Putri Adaninggar, seorang putri dari Negeri Cina yang terobsesi untuk menjadi istri Raja Koparman atau Jayengrana dari Arab. Didorong oleh rasa cinta yang mendalam, Adaninggar menempuh perjalanan jauh menyeberangi lautan untuk bertemu sang raja, namun cintanya bertepuk sebelah tangan.
Alih-alih pulang, Adaninggar memilih membantu Jayengrana dalam peperangan melawan Negeri Kelan di tanah Jawa. Namun dalam pertempuran itu, sang raja justru jatuh cinta pada Putri Kelan, Kelaswara. Merasa dikhianati, Adaninggar pun diliputi amarah dan dendam yang akhirnya membawa pada kejatuhannya sendiri.
Pimpinan Produksi Zalsa Febriana Utami menjelaskan, pesan utama dari pementasan ini adalah ajakan untuk tidak terjebak dalam obsesi berlebihan terhadap sesuatu yang tidak bisa digapai.
“Beda antara berjuang dan terobsesi. Kalau sudah berjuang dan diberi jawaban tidak, ya cukup sampai di situ. Kalau tetap dipaksakan, akhirnya tidak baik. Lewat kisah ini kami ingin mengingatkan pentingnya tahu kapan harus melepaskan,” ujarnya.
Zalsa menambahkan, pihaknya berharap karya tahun depan dapat menghadirkan cerita yang lebih segar dan memukau, serta semakin memperkenalkan seni tradisi Jawa kepada publik, khususnya generasi muda.
Pentas “Retas Lara” mendapat sambutan positif dari penonton, termasuk dua mahasiswi Sekolah Vokasi UNDIP, Jovita dan Mutia, yang menonton bersama untuk pertama kalinya. Keduanya mengaku terkesan dengan kemasan pertunjukan yang menampilkan perpaduan budaya secara harmonis.
“Tadi bagus banget. Saya jadi tahu kalau kesenian Jawa bisa memadukan unsur Cina dan Arab tapi tetap kental nuansa Jawanya. Semoga tahun depan ada lagi,” ujar Jovita.
Mutia juga mengaku senang bisa menonton pertunjukan tersebut, dan berharap pementasan seperti ini dapat lebih sering digelar.
“Seru banget, keren, dan ini pengalaman pertama saya nonton kesenian Jawa. Harapannya semoga ada lagi dan lebih bagus lagi,” tambahnya.
Dengan kemasan yang artistik dan pesan yang relevan, “Retas Lara” menjadi refleksi tentang bagaimana cinta, ambisi, dan keikhlasan dapat terjalin dalam bingkai budaya Jawa yang penuh makna. ***










