Beranda / LIFESTYLE / SENI BUDAYA / Ruang Hidup dari Dinding Rumah Warga Mapagan

Ruang Hidup dari Dinding Rumah Warga Mapagan

KABUPATEN SEMARANG, obyektif.tv – Gelaran Mural Competition di Dusun Mapagan, Kabupaten Semarang, menjadi ruang ekspresi seni sekaligus ajang kolaborasi antara para muralis dan masyarakat. Selama dua hari, Sabtu–Minggu, 29–30 November 2025, ruas Jalan RT 02 Mapagan disulap menjadi panggung seni terbuka dengan memanfaatkan 19 bidang dinding rumah warga sebagai media mural.

Mengusung tema “Kreatif untuk Semua: Alam-Seni Budaya & Kreativitas-Gotong Royong”, kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Festival Ekonomi Kreatif Desa Wisata Kabupaten Semarang, yang puncaknya akan digelar pada 6–7 Desember 2025. Penyelenggaraan festival merupakan kerja kolaboratif Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang, Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang, dan Komunitas Jejaring Kolektif Semarang Serasi.

Sejak pagi pukul 07.00 WIB, puluhan seniman mural dari Kabupaten Semarang dan daerah sekitar mulai menorehkan karya pada tembok-tembok yang disediakan, menyajikan visual tentang budaya, alam, kebersamaan, dan pesan lingkungan hijau yang berkelanjutan.

Kepala Bidang Destinasi Wisata Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang, Windarsih, didampingi Ketua EkonomiKreatif, Dimas Herdy Utomo, menegaskan bahwa festival ini merupakan bagian strategis dari penguatan ekosistem ekonomi kreatif daerah. Ia berharap ajang seperti ini tidak hanya menjadi ruang berkreasi, tetapi juga membuka peluang pertemuan antara para muralis dengan industri kreatif.

“Harapannya talenta para artis mural dapat terus berkelanjutan sehingga aktivitas ini mempertemukan para muralis dengan industri kreatif dan memberi manfaat nyata bagi pertumbuhan ekonomi,” ujar Windarsih.

Kepala Bidang Destinasi Wisata Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang, Windarsih, didampingi Ketua EkonomiKreatif, Dimas Herdy Utomo foto bersama seniman mural Kabupaten Semarang.

Windarsih menambahkan bahwa penyelenggaraan festival mural memiliki peluang untuk berkembang lebih luas di masa mendatang.

“Ke depan festival ini bisa direplikasi di berbagai tempat di Kabupaten Semarang karena potensi ruang sangat banyak dan dapat menjadi wadah gagasan kreatif, kritik sosial konstruktif, dan edukatif,” lanjutnya.

Windarsih mengajak masyarakat untuk hadir pada puncak Festival Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang dan merasakan “aura Rembulan Serasi” yang menampilkan karya kreatif dan potensi desa wisata dengan konsep berbeda dari festival sebelumnya.

Ruang Hidup bagi Seniman

Seniman mural Kabupaten Semarang, Surya Adi Rahman, menyambut antusias pelaksanaan kompetisi ini. Menurutnya, kegiatan mural jarang digelar di daerah dan kehadiran kompetisi seperti ini menjadi terobosan penting dalam menghidupkan kembali aktivitas ekraf di tingkat lokal.

“Ini keren banget dan menjadi cara untuk menghidupkan industri kreatif. Banyak muralis jarang mendapat order, sehingga mereka jarang praktik. Dengan acara seperti ini mereka bisa menuangkan gagasan dan mendapatkan koneksi meski tidak menang,” ungkapnya.

Ia menilai penyelenggaraan kompetisi mural tidak hanya menghasilkan karya visual, tetapi juga membawa pengaruh positif bagi dinamika sosial dan ekonomi di lingkungan sekitar.

“Dampaknya besar untuk lingkungan. Orang yang melihat akan terinspirasi untuk membuat mural di kampungnya atau sekolahnya, kemudian mencari muralis. Inilah konsep ekonomi kreatif yang bergerak dari bawah,” jelasnya.

Seniman mural Kabupaten Semarang, Surya Adi Rahman.

Surya juga menyoroti bahwa industri mural sempat mengalami penurunan beberapa tahun terakhir, terutama karena kondisi ekonomi global yang melemah. Karena itu, menurutnya, acara semacam ini menjadi langkah realistis dalam menjaga eksistensi para pekerja kreatif.

Dukungan kuat juga datang dari warga sekitar. Salah seorang warga Dusun Mapagan, Sunyoto Eko Nugroho, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi tradisi inovatif yang membanggakan bagi lingkungan RT 02.

“Ini sangat positif dan menjadi salah satu tradisi inovatif. RT 02 memang sering jadi pelopor kegiatan kreatif, tetapi tahun ini skalanya lebih besar. Semoga bisa dilestarikan dan menginspirasi kampung lain,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa seluruh warga mendukung penuh penyelenggaraan festival mural tersebut.

Gelaran Mural Competition di Dusun Mapagan tidak hanya memamerkan karya visual, tetapi juga memperkuat nilai gotong royong, mendorong kreativitas lokal, serta membuka peluang ekonomi kreatif dari tingkat komunitas. Semangat kolaborasi tersebut diharapkan menjadi energi baru bagi perkembangan desa wisata dan industri kreatif di Kabupaten Semarang. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *