Beranda / EKBIZ / EKRAF / Samuel Wattimena Dorong Penguatan Identitas di Jejaring Kampung

Samuel Wattimena Dorong Penguatan Identitas di Jejaring Kampung

SEMARANG, obyektif.tv – Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, mendorong penguatan identitas budaya dalam Jejaring Kampung sebagai fondasi membangun ekosistem festival dan ekonomi kreatif berbasis warga di Semarang.

Hal itu disampaikannya dalam Forum Jaringan Kampung yang diinisiasi Kolektif Hysteria di Kampung Ranting Pelangi, Kelurahan Wonolopo, Kecamatan Mijen, Sabtu (21/2/2026). Forum tersebut dihadiri perwakilan Kampung Jatiwayang, Wonolopo, Kemijen, Tambakrejo, hingga Bustaman.

Samuel menilai penguatan jejaring harus dimulai dari penggalian kapasitas dan karakter masing-masing kampung. Kegiatan yang telah berjalan bertahun-tahun perlu dimaknai ulang agar tidak sekadar menjadi agenda rutin, tetapi benar-benar mencerminkan identitas kampung.

“Yang paling utama adalah bagaimana kapasitas yang sudah ada di kampung ini kita munculkan kembali, dengan memperkuat makna dari kegiatan yang selama ini mereka lakukan,” ujarnya.

Ia juga menawarkan kolaborasi dengan mitra kerja Komisi VII DPR RI, yakni TVRI, RRI, dan ANTARA, untuk memperluas publikasi potensi budaya kampung.

Menurutnya, penyusunan agenda tahunan yang terstruktur penting agar arah Jejaring Kampung pada 2026 lebih jelas. Ia berharap kegiatan budaya dapat digelar rutin setiap bulan, dengan penekanan pada proses menuju festival.

“Road to festival itu penting. Generasi muda harus paham bahwa festival lahir dari proses penggalian identitas dan pemahaman internal kampung,” katanya.

Founder Kolektif Hysteria, Ahmad Khairudin, yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Ekonomi Kreatif Jawa Tengah, menegaskan bahwa jejaring kampung telah terbangun cukup lama dengan sejumlah agenda rutin di berbagai wilayah. Ia menilai Semarang memiliki potensi besar karena belum banyak kampung yang memiliki festival tahunan secara konsisten.

Menurutnya, festival kebudayaan menjadi pintu masuk untuk membicarakan isu turunan seperti UMKM dan kebersihan. Namun yang utama tetap pada identitas dan kekuatan budaya masing-masing kampung.

“Kalau kita kuat di identitas festivalnya, maka persoalan turunan seperti UMKM dan lainnya akan ikut terdorong,” ujarnya.

Adin, sapaan akrabnya, menekankan bahwa jejaring yang dibangun tidak semata berbasis pendanaan, melainkan komitmen relasi antarwarga. Menurutnya, kekuatan jaringan justru terletak pada konsistensi kerja, baik saat ada dukungan anggaran maupun tidak.

Sementara itu, warga Kampung Bustaman, Ipung, yang juga panitia Gebyuran Bustaman, menyambut positif forum tersebut. Ia menilai kegiatan ini menambah wawasan sekaligus memperluas komunikasi antar-kampung.

“Kami bisa saling belajar kebutuhan masing-masing. Kalau kampung lain butuh sesuatu yang bisa kami bantu, kami bantu. Begitu juga sebaliknya. Ini simbiosis mutualisme,” ujarnya.

Ipung menyebut Gebyuran Bustaman telah masuk dalam agenda Pemerintah Kota Semarang. Ke depan, warga juga merencanakan festival bertema sejarah kampung sebagai upaya merawat identitas lokal di tengah tekanan kawasan wisata di sekitarnya.

Hal senada disampaikan Lukman, warga Bustaman lainnya. Ia menilai masih banyak potensi kampung yang belum tergali, salah satunya tradisi jagal kambing Bustaman yang dulu menjadi rujukan warga Kota Semarang.

“Dulu orang mencari Bustaman untuk jagal kambing. Sekarang justru warga mencari ke luar daerah. Kami ingin itu kembali seperti dulu, bukan orang Bustaman yang mencari pekerjaan, tetapi pekerjaan yang datang ke Bustaman,” katanya.

Lukman berharap generasi muda lebih aktif terlibat agar tradisi tersebut tidak punah. Menurutnya, penguatan solidaritas sosial remaja kampung menjadi kunci untuk menghidupkan kembali identitas Bustaman.

Forum Jaringan Kampung ini menjadi momentum konsolidasi untuk memperkuat identitas budaya sebagai basis festival dan penggerak ekonomi kreatif. Dengan dukungan jejaring, publikasi, serta keterlibatan generasi muda, kampung-kampung di Semarang diharapkan mampu menjaga karakter lokal sekaligus memperkuat keberlanjutan ekonominya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *