Beranda / REGIONAL / SEMARANG / Samuel Wattimena: Megawati, Pemegang Teguh Ideologi Bangsa

Samuel Wattimena: Megawati, Pemegang Teguh Ideologi Bangsa

SEMARANG, obyektif.tv – Bedah buku “Menangis dan Tertawa Bersama Rakyat” di kafe Oud En Nieuw, Kota Lama Semarang, Jumat (17/10/2025), menjadi ruang refleksi menarik tentang sosok Megawati Soekarnoputri dan relevansi ideologinya bagi generasi muda.

Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, menilai Megawati adalah sosok yang tetap teguh pada akar ideologi bangsa di tengah derasnya arus informasi saat ini. Ia menyebut, di era Soekarno sumber berita sangat terbatas, berbeda dengan masa kini di mana masyarakat justru dihadapkan pada banjir informasi yang kerap menimbulkan kebingungan dalam memaknai kebenaran.

“Bu Mega sebenarnya bisa menjadi magnet, tetapi masyarakat sekarang terlalu banyak melihat sekitar dan tidak fokus pada siapa yang seharusnya mereka panuti. Mereka harus tahu akar budayanya, tahu siapa dirinya sebagai bangsa Indonesia,” ujarnya.

Ia mengutip pandangan Bung Karno bahwa seorang muslim tak perlu menjadi “ke-Arab-araban” dan seorang Kristen tak perlu menjadi orang Eropa. Menurutnya, yang terpenting adalah tetap berpijak pada akar budaya sendiri.

“Mereka yang memahami jati dirinya sebagai bangsa Indonesia, akan tahu tuntunan yang benar, dan melihat Bu Mega sebagai figur ideologis yang harus dijadikan teladan,” katanya.

Jurnalis Senior Kristin Samah.

Sementara itu, Jurnalis Senior Kristin Samah menjelaskan bahwa perubahan wajah dunia pers turut membentuk cara pandang masyarakat terhadap figur publik. Ia menuturkan, pada masa perjuangan dan awal Orde Baru, pers berperan sebagai alat perjuangan dengan idealisme tinggi. Namun, memasuki era industri hingga digital, informasi kemudian berubah menjadi komoditas yang diperjualbelikan.

“Ketika saya menjadi wartawan pada tahun 90-an, sudah terjadi transisi dari pers yang idealis menjadi industri. Hingga akhirnya kita memasuki era digital, di mana bukan lagi informasinya yang dijual, tapi klik-bait-nya,” jelasnya.

Kristin juga menekankan pentingnya kesadaran politik, khususnya bagi perempuan. Ia menegaskan bahwa berpolitik tidak selalu berarti menduduki jabatan publik, tetapi juga melibatkan keberanian mempertanyakan kebijakan yang berdampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari.

“Mempertanyakan mahalnya bahan pangan atau akses pendidikan adalah bentuk politik. Kita harus sadar akan hak-hak sebagai warga negara,” tambahnya.

Akademisi Oerip Lestari.

Pandangan berbeda datang dari akademisi Oerip Lestari yang menilai tantangan Megawati jauh lebih kompleks dibandingkan ayahandanya, Bung Karno. Jika Bung Karno berhadapan dengan kolonialisme dan imperialisme, maka Megawati harus menghadapi dinamika bangsanya sendiri.

“Musuh Bung Karno adalah kolonialisme, tapi musuh Bu Mega adalah bangsanya sendiri. Beliau memerlukan stamina luar biasa, kesabaran revolusioner, dan tetap berpegang pada konstitusi,” ujarnya.

Ia menambahkan, Megawati dikenal konsisten menolak praktik politik transaksional dan selalu memilih berjuang dengan cara-cara yang jujur dan konstitusional.

“Beliau tidak mau bermain politik dagang sapi. Ideologi dan kejujuran itu yang akan terus beliau wariskan, tidak hanya kepada anak biologisnya, tetapi juga kepada para kader bangsa,” katanya.

Acara bedah buku yang digagas Rumah Aspirasi Samuel Wattimena itu dihadiri berbagai kalangan muda, akademisi, dan aktivis, yang terlibat dalam diskusi hangat mengenai nilai-nilai kejujuran, ideologi, dan semangat kebangsaan di tengah perubahan zaman. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *