KABUPATEN SEMARANG, obyektif.tv – Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, menekankan pentingnya proses budaya sebagai sarana memperkuat identitas lokal dalam sosialisasi empat pilar kebangsaan dan sarasehan budaya yang digelar di Aula Griya Ageng Kedaton, Desa Kedaton, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, Senin (23/2/2026).
Samuel menegaskan bahwa sosialisasi empat pilar kebangsaan harus membumi dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk para pelaku seni. Ia menyoroti pentingnya memahami proses di balik pertunjukan budaya, bukan hanya menilai hasil akhir yang tampil di panggung.
“Kalau hasil berkesenian sudah mencerminkan empat pilar, itu bagus. Tapi yang lebih penting adalah prosesnya. Masyarakat perlu memahami bahwa di balik pertunjukan, ada banyak orang yang terlibat—dari latihan, pengadaan properti, makeup, hingga penataan panggung. Semua itu memiliki makna, dan makna itu perlu disampaikan kepada masyarakat,” ujar Samuel.
Samuel juga mengajak seniman untuk memanfaatkan era digital dan teknologi agar kesenian Jawa dapat dikenal lebih luas, termasuk di luar daerah. Ia menegaskan bahwa identitas lokal harus dijaga dan disyiarkan.
“Kita sering meniru budaya lain, padahal karakter asli kita sudah unik dan kuat. Local is The New Global. Karakter lokal kita justru menjadi identitas yang diperhitungkan di panggung dunia. Kalau kita tidak punya karakter, kita akan kesapu oleh budaya lain,” tegasnya.
Camat Bawen, Aris Setyawan, menyebut bahwa Kecamatan Bawen memiliki posisi strategis sebagai simpul perlintasan Joglosemar, termasuk jalur tol yang memudahkan akses ke Solo, Semarang, dan Jogja. Posisi ini menjadikan Bawen wilayah dinamis, baik dari sisi ekonomi maupun budaya.
“Ke depan, Bawen diharapkan tetap eksis dalam pengembangan seni budaya meski ada keterbatasan anggaran. Dengan memanfaatkan teknologi, pentas budaya bisa menjangkau masyarakat lebih luas, sambil tetap mempertahankan karakter dan nilai-nilai lokal,” katanya.
Ketua Lembaga Kemasyarakatan Kelurahan (LKK) Bawen, Aris Enjang Wiyarno, mengapresiasi perhatian Samuel Wattimena terhadap pelaku seni dan budayawan, termasuk dukungan anggaran binaan sebesar Rp 15 juta yang dibagi untuk LKK Bawen, Tosan Aji, dan Permadani.
“Anggaran ini sangat membantu membangkitkan kesenian tradisional yang mulai hilang atau mati suri. Peran kami adalah menguri-nguri budaya agar tetap lestari dan berkembang, sehingga kesenian lokal menjadi identitas masyarakat yang diperhitungkan,” jelas Enjang.
Kegiatan sosialisasi empat pilar dan sarasehan budaya di Bawen ini juga dihadiri oleh Pamong Budaya Kabupaten Semarang Setyo Widodo, Pamong Budaya Kecamatan Bawen Henik Ratna Ciptaningrum, Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani) Bawen, Anggota LKK Bawen, Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Melati Kecamatan Bawen, Ketua Tosan Aji Kendalisodo Budiyono, LKK Bandungan, LKK Bergas, paguyuban Semut Ireng, serta sejumlah tokoh seni budaya Kabupaten Semarang.
Acara ini menunjukkan sinergi antara pemerintah, legislatif, dan masyarakat dalam menjaga pelestarian seni budaya, memperkuat kesadaran masyarakat, dan menegaskan nilai-nilai kebangsaan melalui kesenian lokal. Selain dialog dan pembinaan, kegiatan juga dimeriahkan dengan pengumpulan beras secara simbolis, yang akan dikirim sebagai bagian rangkaian Hari Ulang Tahun Kabupaten Semarang ke-505, menegaskan semangat gotong-royong dan partisipasi masyarakat dalam menjaga tradisi dan kesenian daerah. ***










