SEMARANG, obyektif.tv – Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menegaskan bahwa penyandang disabilitas bukanlah kelompok yang perlu dikasihani, melainkan harus difasilitasi agar mampu mengembangkan potensi dan karyanya.
Penegasan itu disampaikan saat menghadiri penutupan pameran lukisan bertajuk “Aku Ada, Aku Berkarya, Aku Setara” yang digelar komunitas Roemah Difabel di kantor Alliance Française Semarang, Jalan Dokter Wahidin Nomor 54, Semarang, Sabtu (21/2/2026).
“Difabel bukan untuk dikasihani, tetapi difasilitasi,” tegas Sumarno di hadapan para peserta dan tamu undangan.
Menurutnya, kegiatan pameran seni seperti ini menjadi ruang penting bagi para penyandang disabilitas untuk mengekspresikan bakat dan minat mereka. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, lanjutnya, mendukung penuh berbagai bentuk fasilitasi yang mendorong kemandirian dan kepercayaan diri difabel.
Ia juga mengajak masyarakat untuk turut memberikan apresiasi terhadap karya-karya difabel, salah satunya dengan menghadiri dan mempromosikan kegiatan serupa secara lebih luas.
Pimpinan Alliance Française Semarang, Kiki Martaty, mengatakan pihaknya berkomitmen menghadirkan seni sebagai bahasa universal yang mampu menjembatani perbedaan. Karena itu, lembaganya membuka ruang kolaborasi dengan Roemah Difabel melalui penyelenggaraan pameran tersebut.
Pameran yang dibuka oleh Duta Besar Prancis untuk Indonesia pada Rabu (11/2/2026) itu berlangsung hingga Sabtu (21/2/2026).
Sementara itu, Ketua Yayasan Difabel Indonesia Hidayah Ratna menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah terhadap pengembangan bakat dan kemampuan penyandang disabilitas. Ia menilai pameran tersebut menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya kesetaraan dan inklusivitas. ***









