SEMARANG, obyektif.tv – Perayaan Idul Fitri di Indonesia tidak hanya identik dengan tradisi saling bermaafan, tetapi juga kehadiran sajian khas ketupat dan opor ayam di meja makan. Lebih dari sekadar hidangan, keduanya menjadi simbol kuat yang merepresentasikan nilai maaf dan silaturahmi dalam kehidupan masyarakat.
Ketupat, yang dibungkus anyaman daun kelapa muda atau janur, memiliki makna filosofis yang mendalam. Dalam tradisi Jawa, ketupat dimaknai sebagai “ngaku lepat” atau pengakuan atas kesalahan. Filosofi ini diyakini berkembang sejak masa Sunan Kalijaga, yang menggunakan simbol ketupat sebagai media dakwah untuk mengajarkan pentingnya introspeksi dan saling memaafkan.
Anyaman janur yang rumit mencerminkan kesalahan manusia yang beragam, sementara isi ketupat yang berwarna putih melambangkan hati yang kembali bersih setelah proses saling memaafkan. Nilai ini sejalan dengan esensi Idul Fitri sebagai momentum kembali ke fitrah.
Di sisi lain, opor ayam hadir sebagai simbol silaturahmi dan kebersamaan. Hidangan berkuah santan ini umumnya disajikan dalam suasana kekeluargaan dan dinikmati bersama, memperkuat ikatan antaranggota keluarga maupun kerabat. Kehangatan yang tercipta dari tradisi makan bersama menjadi wujud nyata dari nilai kebersamaan yang dijunjung tinggi saat Idul Fitri.
Perpaduan ketupat dan opor ayam pun membentuk makna yang utuh. Ketupat menjadi simbol permohonan maaf, sementara opor ayam merepresentasikan silaturahmi. Keduanya saling melengkapi dalam tradisi Lebaran yang menekankan pentingnya memperbaiki hubungan antarsesama.
Hingga kini, tradisi menyajikan ketupat dan opor ayam tetap lestari di berbagai daerah di Indonesia. Di tengah perubahan zaman, nilai-nilai yang terkandung dalam sajian tersebut terus relevan sebagai pengingat akan pentingnya kerendahan hati, saling memaafkan, dan menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat. ***








