Beranda / LIFESTYLE / SENI BUDAYA / Wisata Sejarah Ambarawa Kian Hidup Lewat Sendratari Babad Fort Willem I

Wisata Sejarah Ambarawa Kian Hidup Lewat Sendratari Babad Fort Willem I

KABUPATEN SEMARANG, obyektif.tv – Wisata sejarah di Ambarawa, Kabupaten Semarang, kian bergeliat. Kawasan Cagar Budaya Benteng Pendem atau Fort Willem I kini tidak hanya menawarkan kemegahan arsitektur kolonial, tetapi juga pengalaman wisata berbasis seni pertunjukan melalui Sendratari Babad Fort Willem I.

Sejak Januari 2025, sendratari tersebut resmi diluncurkan sebagai agenda rutin bulanan yang menghidupkan kembali narasi sejarah benteng peninggalan Belanda itu. Pementasan perdana digelar pada Sabtu (17/1/2025) malam dan disambut antusias oleh masyarakat serta wisatawan yang memadati kawasan benteng.

Supervisor Kawasan Fort Willem I dari Lawu Group, Marsono, mengatakan bahwa kehadiran sendratari ini menjadi bagian dari strategi pengelolaan destinasi agar wisata sejarah tidak hanya bersifat visual, tetapi juga menghadirkan pengalaman edukatif dan atraktif.

“Fort Willem I memiliki nilai sejarah yang besar. Melalui sendratari ini, kami ingin menghidupkan kembali cerita di balik benteng sekaligus menjadikannya daya tarik wisata yang berkelanjutan,” ujar Marsono.

Sejarah Dihadirkan Lewat Panggung Seni

Sendratari Babad Fort Willem I dikemas dalam format serial sejarah yang terdiri dari beberapa episode. Ceritanya mengangkat latar pembangunan benteng pada tahun 1834, pasca-Perang Diponegoro, ketika Belanda mengalami kerugian besar dari sisi logistik dan strategi perang. Dalam situasi tersebut, Fort Willem I dibangun sebagai benteng pertahanan sekaligus barak militer berskala besar.

Marsono menjelaskan, konsep berseri dipilih untuk menumbuhkan rasa penasaran penonton sekaligus mendorong kunjungan ulang wisatawan. Episode lanjutan dijadwalkan tampil pada pertengahan bulan berikutnya.

“Kami ingin wisatawan datang tidak hanya sekali, tetapi kembali lagi untuk menyaksikan kelanjutan ceritanya,” katanya.

Meski proses persiapan pementasan terbilang singkat, kualitas pertunjukan dinilai setara dengan sendratari berskala nasional. Hal ini tidak lepas dari kolaborasi Lawu Group dengan sanggar seni lokal Ambarawa, seperti Sanggar Nayanika, Hanuman Art, dan Sanggar Kemerincing.

Seluruh penari dan pemeran merupakan putra-putri daerah Ambarawa yang telah melalui proses pembinaan intensif. Kehadiran mereka sekaligus menunjukkan potensi seni pertunjukan lokal sebagai bagian penting dari pengembangan wisata sejarah.

Tiket Terjangkau, Daya Tarik Kian Kuat

Daya tarik lain dari sendratari ini terletak pada aksesibilitasnya. Pengunjung cukup membayar tiket masuk kawasan Fort Willem I sebesar Rp15.000 untuk dapat menikmati pertunjukan, tanpa biaya tambahan. Harga tersebut dinilai sangat terjangkau dibandingkan pertunjukan serupa di destinasi wisata lain.

Pementasan perdana juga mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten Semarang yang turut hadir dalam kegiatan tersebut. Dukungan ini menjadi sinyal kuat bahwa pengembangan wisata sejarah berbasis budaya mendapat perhatian serius dari pemerintah.

Selain pementasan rutin, pengelola kawasan juga membuka kelas karawitan bagi anak-anak usia SD dan SMP sebagai upaya regenerasi seniman serta keberlanjutan ekosistem budaya lokal.

Dengan perpaduan sejarah, seni pertunjukan, dan keterlibatan masyarakat lokal, Sendratari Babad Fort Willem I diharapkan mampu menjadi magnet baru wisata sejarah Ambarawa serta menarik kunjungan wisatawan nusantara hingga mancanegara. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *