SEMARANG, obyektif.tv – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menghadirkan perpaduan seni modern dan tradisi sakral melalui rangkaian Mahakarya Goa Kreo dan ritual Sesaji Rewanda di kawasan Gunungpati pada akhir pekan ini.
Pagelaran Mahakarya Legenda yang digelar Jumat (27/3/2026) malam di Plaza Kandri menjadi representasi seni pertunjukan modern yang mengangkat kisah lokal secara kreatif dan artistik. Pertunjukan ini sekaligus menjadi pembuka menuju puncak ritual tahunan Sesaji Rewanda yang dilaksanakan di Obyek Wisata Goa Kreo pada Sabtu (28/3/2026) pagi.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menegaskan bahwa penyatuan dua konsep tersebut merupakan langkah strategis untuk menjaga budaya tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.
“Mahakarya Goa Kreo memberi ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan legenda secara modern, sementara Sesaji Rewanda menjaga nilai-nilai spiritual dan tradisi yang telah diwariskan sejak masa Sunan Kalijaga,” ujarnya.
Ritual Sesaji Rewanda menjadi inti dari tradisi sakral yang terus dilestarikan. Prosesi diawali dengan kirab dari Masjid Al-Mabrur menuju pelataran Goa Kreo. Dalam arak-arakan tersebut, replika kayu jati yang menjadi simbol sejarah perjuangan Sunan Kalijaga dipikul oleh delapan orang, diiringi sembilan Santri Kanjengan serta sosok Kera Bangbintulu.
Replika kayu jati tersebut melambangkan nilai gotong royong dalam membangun peradaban, sebagaimana pembangunan Masjid Agung Demak pada masa lalu. Selain itu, keberadaan kera-kera di kawasan Goa Kreo juga menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah dakwah Sunan Kalijaga yang hingga kini tetap dijaga kelestariannya.
Pada pelaksanaan tahun ini, sebanyak enam jenis gunungan turut dikirab, yakni Gunungan Sesaji, Buah, Nasi Kuning, Hasil Bumi, Kupat Lepet, dan Nasi Golong. Setelah didoakan, gunungan tersebut dipersembahkan secara simbolis kepada kawanan kera sebagai bentuk sedekah alam, sebelum kemudian diperebutkan masyarakat dalam tradisi “ngalap berkah”.
Tak hanya sarat nilai budaya dan spiritual, rangkaian kegiatan ini juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar, khususnya di kawasan Desa Wisata Kandri. Dengan adanya pagelaran malam dan ritual pagi, wisatawan diharapkan tinggal lebih lama dan menikmati suasana alam Goa Kreo.
Pemkot Semarang pun mengajak masyarakat untuk menyaksikan langsung rangkaian Mahakarya Goa Kreo sebagai wujud perpaduan seni modern dan tradisi sakral yang terus dijaga keberlanjutannya. ***








