Beranda / LIFESTYLE / SENI BUDAYA / Keanggunan Tari Gambyong Pareanom Sanggar Gendhis Bawen Sambut Tamu Kehormatan

Keanggunan Tari Gambyong Pareanom Sanggar Gendhis Bawen Sambut Tamu Kehormatan

KABUPATEN SEMARANG, obyektif.tv – Keanggunan Tari Gambyong Pareanom membuka kegiatan Sosialisasi Strategi Promosi dan Pemasaran Event Daerah di The Wujil Resort & Conventions, Kabupaten Semarang, Jumat (27/3/2026). Tarian tradisional khas Jawa Tengah tersebut dibawakan oleh penari dari Sanggar Tari Gendhis Bawen sebagai bentuk penyambutan kepada tamu kehormatan.

Empat penari yang tampil, yakni Marsha Maulida, Fasif Intan Aprilia, Nila Dwi Camelia Sari, dan Vera Alivia Kirani, memukau hadirin melalui gerakan yang luwes, anggun, dan penuh ekspresi. Menariknya, keempat penari tersebut masih berstatus pelajar. Kehadiran mereka menjadi penanda penting bahwa generasi muda turut mengambil peran dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya daerah.

Melalui setiap gerakan yang ditampilkan, para penari tidak hanya menyuguhkan keindahan tari, tetapi juga menarasikan kebanggaan terhadap identitas budaya lokal. Ekspresi, ritme, dan kekompakan yang mereka hadirkan mencerminkan bagaimana tradisi tetap hidup dan relevan di tangan generasi penerus.

Tari Gambyong Pareanom merupakan salah satu tarian klasik yang berasal dari Surakarta dan dikenal sebagai simbol keanggunan, keceriaan, serta kesuburan. Tarian ini kerap dipentaskan dalam berbagai acara resmi, seperti penyambutan tamu maupun resepsi pernikahan.

Secara historis, Tari Gambyong berakar dari kesenian rakyat, khususnya tari tayub yang dibawakan oleh penari tledhek dengan karakter lincah dan ekspresif. Nama “Gambyong” diyakini berasal dari penari tayub terkenal pada abad ke-18, Sri Gambyong.

Pada masa pemerintahan Pakubuwono IX (1861–1893), Kanjeng Raden Mas Tumenggung Wreksadiningrat mulai menata ulang tarian ini menjadi lebih halus dan terstruktur agar layak dipentaskan di lingkungan bangsawan. Penyempurnaan tersebut kemudian dilanjutkan oleh Nyi Bei Mintoraras, yang meresmikan koreografi Gambyong Pareanom pada tahun 1950.

Tarian ini pertama kali dipentaskan secara resmi pada pernikahan Gusti Nurul, saudara perempuan Mangkunegara VIII, pada tahun 1951. Penyebutan “Pareanom” merujuk pada gending pengiring yang digunakan dalam pertunjukan tersebut.

Pada awalnya, Tari Gambyong memiliki fungsi ritual sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Sri yang melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Seiring perkembangan zaman, fungsi tersebut bergeser menjadi tari penyambutan sebagai wujud penghormatan dan keramahan.

Secara visual, tarian ini menonjolkan karakter perempuan Jawa yang luwes, kenes, dan kewes. Gerakannya didominasi langkah kaki yang lincah, ayunan lengan yang anggun, serta permainan kepala dan arah pandangan mata yang selaras dengan gerakan tangan. Penari umumnya mengenakan busana tradisional Jawa seperti kemben atau kebaya dan kain batik dengan dominasi warna kuning dan hijau, yang melambangkan kesuburan dan kemakmuran.

Pementasan Tari Gambyong Pareanom dalam kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari seremoni pembukaan, tetapi juga merepresentasikan kekayaan budaya lokal yang tetap lestari serta adaptif dalam mendukung pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Kabupaten Semarang. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *