Beranda / EKBIZ / EKRAF / Kolaborasi Narasi dan Digitalisasi Jadi Kunci Promosi Desa Wisata dan Event Daerah

Kolaborasi Narasi dan Digitalisasi Jadi Kunci Promosi Desa Wisata dan Event Daerah

KABUPATEN SEMARANG, obyektif.tv – Penguatan narasi dan pemanfaatan platform digital menjadi kunci dalam meningkatkan daya saing desa wisata dan event daerah di Indonesia. Hal tersebut mengemuka dalam Sosialisasi Strategi Promosi dan Pemasaran Event Daerah yang digelar Kementerian Pariwisata RI di The Wujil Resort & Conventions, Kabupaten Semarang, Jumat (27/3/2026).

Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, menegaskan pentingnya narasi dalam membangun citra pariwisata Indonesia di kancah internasional. Menurutnya, kekayaan destinasi yang dimiliki Indonesia harus mampu dikomunikasikan secara tepat agar menarik perhatian wisatawan.

“Banyak pelaku desa wisata sebenarnya sudah memahami potensi yang dimiliki, tetapi masih perlu dilatih dalam menarasikan kekayaan tersebut. Narasi ini penting sebagai titik awal sebelum dieksekusi,” ujarnya.

Ia menambahkan, proses penguatan narasi tidak harus sepenuhnya dibebankan kepada masyarakat desa. Kolaborasi dengan penulis, sastrawan, dan para ahli dinilai menjadi solusi untuk menghasilkan cerita yang kuat dan menarik.

“Untuk bisa kolaborasi harus ada koordinasi, dan untuk koordinasi harus ada komunikasi. Tiga hal ini tidak bisa dipisahkan,” tegasnya.

Samuel juga mengingatkan agar Indonesia tidak terus membandingkan diri dengan destinasi lain seperti Bali atau negara lain. Menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana potensi lokal dikomunikasikan dengan baik kepada dunia.

“Ketika kita memang bagus, kita harus mampu menyampaikan bahwa kita bagus. Itu tidak akan terjadi kalau tidak dikomunikasikan,” katanya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggaraan Kegiatan (Event) Kementerian Pariwisata, Vinsensius Jemadu, menyebut event berbasis budaya, alam, dan olahraga di Indonesia memiliki kualitas yang tidak kalah dengan event internasional.

Ia menekankan pentingnya peningkatan kualitas event daerah agar mampu naik kelas dari standar nasional menjadi standar global, sehingga berdampak pada pertumbuhan ekonomi lokal.

“Kita punya banyak event, tetapi belum maksimal dari sisi promosi dan pemasaran. Karena itu, perlu pemanfaatan platform digital agar eksposur semakin luas,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah juga telah mengembangkan teknologi berbasis kecerdasan buatan seperti “Sobat Maya” yang dapat dimanfaatkan untuk mengakses informasi seputar pariwisata dan event di Indonesia.

Di sisi lain, akademisi ekowisata Universitas Sahid, Fauziah Eddyono, menekankan bahwa promosi desa wisata tidak hanya sebatas pemasaran, tetapi juga menyangkut pengelolaan produk wisata secara berkelanjutan.

Ia mendorong pengelola desa wisata untuk memanfaatkan media sosial seperti Instagram, TikTok, dan WhatsApp sebagai sarana storytelling yang efektif dan murah.

“Storytelling bisa menjadi promosi gratis yang menjangkau luas, bahkan hingga mancanegara, jika algoritma dimanfaatkan dengan baik,” jelasnya.

Fauziah juga menyoroti pentingnya menghadirkan keunikan atau keotentikan (authenticity) dalam setiap produk wisata desa. Ia menilai segmen usia 20 hingga 39 tahun cenderung tertarik pada pengalaman yang autentik dan berbeda.

“Setiap desa punya keunikan, bahkan dari cara memasak hingga penyajian makanan. Itu yang harus diceritakan. Otentisitas inilah yang menjadi daya tarik,” katanya.

Ia optimistis, dengan strategi digital yang tepat, desa wisata mampu menjangkau wisatawan mancanegara. Salah satunya dengan membangun jejaring melalui media sosial.

“Dari satu akun media sosial, kita tidak tahu jejaringnya bisa sampai ke mana, termasuk ke pasar internasional,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *