Beranda / LIFESTYLE / SENI BUDAYA / Doa Perdamaian Nusantara Perkuat Nilai Kebhinekaan Bangsa

Doa Perdamaian Nusantara Perkuat Nilai Kebhinekaan Bangsa

KABUPATEN SEMARANG, obyektif.tv – Ratusan peserta dari berbagai latar belakang agama dan budaya mengikuti Doa Perdamaian Nusantara yang digelar di Benteng Willem I (Benteng Pendem), Ambarawa, Kabupaten Semarang, Sabtu (28/3/2026). Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama untuk memohon kedamaian sekaligus memperkuat nilai persatuan di tengah keberagaman bangsa.

Kegiatan diawali dengan kirab budaya yang menampilkan ragam seni tradisional lokal, kemudian dilanjutkan dengan doa bersama lintas agama. Suasana khidmat terasa saat para tokoh agama dan masyarakat berbaur dalam satu prosesi yang menekankan pentingnya harmoni dan kebersamaan.

Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, menyampaikan apresiasinya atas keterlibatan berbagai elemen masyarakat dalam kegiatan tersebut. Ia menilai, kehadiran tokoh agama dari berbagai keyakinan—mulai dari Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, Konghucu hingga Kejawen—menjadi simbol kuat persatuan Indonesia.

“Saya bersyukur masyarakat lintas agama bisa berkumpul dan berdoa bersama. Ini menunjukkan bahwa kita memiliki semangat yang sama untuk mendoakan Indonesia agar menjadi lebih baik,” ujarnya.

Menurutnya, setiap individu memiliki cara masing-masing dalam memanjatkan doa, namun tujuan yang ingin dicapai tetap sama, yakni terciptanya kedamaian dan ketentraman di tengah masyarakat.

Samuel juga menekankan pentingnya nilai-nilai dasar dalam membangun kedamaian, yakni rasa syukur, empati, dan sukacita. Ia meyakini, ketiga hal tersebut dapat menumbuhkan kepekaan sosial sekaligus membimbing masyarakat dalam merespons berbagai dinamika kehidupan.

Selain itu, ia menilai kegiatan budaya seperti kirab sangat relevan untuk terus dikembangkan, termasuk dikolaborasikan dengan pendekatan kekinian agar dapat menjangkau generasi muda.

“Kebudayaan tidak boleh terputus dari generasi saat ini. Justru harus hadir dan mendekati anak muda, agar mereka bisa memahami dan menjalankannya dengan cara mereka sendiri,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya peran para tokoh senior dan sesepuh dalam mendampingi generasi muda agar nilai-nilai budaya tetap terjaga dan terus berkembang.

Sementara itu, tokoh budaya Sri Ganasena Murti menjelaskan bahwa doa bersama ini memiliki beberapa tujuan utama, di antaranya memohon tuntunan dari leluhur Nusantara agar masyarakat dapat hidup damai, rukun, dan sejahtera.

Ia juga berharap agar Tuhan Yang Maha Kuasa menghadirkan pemimpin-pemimpin yang mampu menegakkan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945, termasuk nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, keadilan, serta kebhinekaan.

“Pancasila dan UUD 1945 adalah pedoman dasar dalam berpikir, berbicara, dan bertindak. Menghormati Pancasila berarti kita juga menghormati para leluhur bangsa,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan sesama, manusia dengan alam, serta manusia dengan Tuhan sebagai fondasi kehidupan berbangsa yang berkelanjutan.

Pemilihan Benteng Willem I sebagai lokasi kegiatan dinilai memiliki makna simbolis. Selain sebagai situs bersejarah, benteng tersebut menjadi representasi perjalanan panjang bangsa Indonesia serta simbol persatuan yang melampaui perbedaan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh kembali kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya menjaga kebhinekaan serta memperkuat persatuan demi terciptanya Indonesia yang damai dan harmonis. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *