Beranda / EKBIZ / EKRAF / Menjaga Rasa Sejak 1930, Kecap Purwodadi Jadi Inspirasi Pelaku Ekraf

Menjaga Rasa Sejak 1930, Kecap Purwodadi Jadi Inspirasi Pelaku Ekraf

GROBOGAN, obyektif.tv – Kecap khas Purwodadi yang telah diproduksi sejak 1930 menjadi bukti nyata bagaimana tradisi dapat terus dijaga sekaligus menjadi inspirasi bagi pelaku ekonomi kreatif. Keberadaan industri rumahan ini turut dikenalkan kepada peserta dalam rangkaian Semarak KaTa Kreatif Jawa Tengah 2026.

Kunjungan dilakukan pada Sabtu (18/4/2026), usai pembukaan acara, dengan melibatkan para pelaku ekonomi kreatif dari berbagai daerah. Lokasi produksi kecap yang berjarak sekitar tiga kilometer dari Alun-alun Purwodadi tersebut menjadi ruang belajar langsung tentang ketahanan usaha berbasis keluarga.

Sejak awal berdiri oleh Ny. Oei Hok Hoo dengan merek Cap Potret, usaha ini terus berkembang tanpa meninggalkan akar tradisi. Nama Cap Potret sendiri diambil dari kondisi rumah sang perintis yang dipenuhi foto-foto di dinding.

Perjalanan usaha berlanjut pada 1960, saat Kustinah mengembangkan merek Kecap Cap Udang yang terinspirasi dari kegemarannya mengonsumsi udang. Kemudian pada 1980, lahir merek Kecap Cap Leo yang diambil dari zodiak Leo. Ragam merek tersebut menunjukkan dinamika usaha keluarga yang tetap adaptif, namun tidak meninggalkan nilai dasar yang diwariskan.

Kini, usaha kecap Purwodadi telah memasuki generasi keempat dengan keterlibatan penerus keluarga, salah satunya Freddy. Meski demikian, proses produksi tetap mempertahankan cara tradisional, yakni menggunakan tungku dan kayu bakar dari kayu jati, yang memberikan aroma dan cita rasa khas.

Selain itu, keberadaan gerai penjualan yang berdekatan dengan pabrik—sekitar 10 hingga 20 meter—memberikan kemudahan bagi pengunjung untuk melihat langsung proses produksi sekaligus membeli produk.

Ketua Komite Ekonomi Kreatif Grobogan, Nugroho Adi Kuncoro, mengatakan kunjungan ini menjadi sarana pembelajaran bagi pelaku ekonomi kreatif agar mampu menjaga konsistensi usaha.

“Melalui kunjungan ini, kami ingin menunjukkan bahwa usaha ekonomi kreatif, meskipun berawal dari skala industri rumahan, dapat bertahan hingga puluhan tahun. Kuncinya adalah menjaga kualitas dan konsistensi,” ujarnya.

Menurutnya, kecap Purwodadi menjadi contoh konkret bahwa menjaga rasa tidak hanya soal produk, tetapi juga menjaga nilai, tradisi, dan komitmen dalam berusaha.

Ke depan, pengalaman tersebut diharapkan mampu memotivasi pelaku ekonomi kreatif untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan identitas lokal, sehingga dapat menciptakan usaha yang berkelanjutan dan berdaya saing. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *