GROBOGAN, obyektif.tv – Di tengah upaya penguatan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal, Tyara Craft, pelaku subsektor kriya asal Kabupaten Pati, mendorong peningkatan nilai tambah limbah bonggol jagung menjadi produk bernilai tinggi melalui ajang Semarak KaTa Kreatif Jawa Tengah 2026 di Alun-alun Purwodadi, Sabtu (18/4/2026).
Perajin Tyara Craft, Ranu Adi, mengatakan potensi limbah bonggol jagung di wilayah Pati hingga kawasan selatan Sukolilo–Purwodadi sangat melimpah, terutama saat panen raya. Selama ini, limbah tersebut kerap dianggap tidak bernilai dan bahkan menjadi beban karena harus dibuang atau dibakar.
“Melalui pengolahan yang tepat, bonggol jagung bisa memiliki nilai ekonomi. Dari yang sebelumnya hanya limbah, kini bisa menjadi produk yang bernilai jual,” ujarnya.
Ia menjelaskan, bonggol jagung dapat diolah menjadi berbagai produk kriya, mulai dari gantungan kunci, gelang, kalung, hingga beragam aksesori. Selain itu, bahan tersebut juga dimanfaatkan untuk produk dekorasi rumah seperti cermin, tempat buah, tempat tisu, pot bunga, tas, dan tempat pensil.
Tidak hanya itu, limbah bonggol jagung yang tidak utuh juga dapat diolah menjadi arang dan dijadikan briket sebagai alternatif bahan bakar, menggantikan tempurung kelapa yang harganya relatif lebih mahal.
Menurut Ranu, bonggol jagung memiliki karakter serat alam yang kuat jika diperlakukan dengan benar, seperti dikeringkan dan dijaga dari paparan air. Dengan metode tersebut, produk dapat bertahan lama tanpa bahan pengawet.
Sejak memulai usaha pada 2015, Tyara Craft telah memasarkan produknya ke berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Konsumen yang dijangkau pun beragam, termasuk kalangan mahasiswa yang memanfaatkan produk untuk kebutuhan riset.
Dalam pemasarannya, Tyara Craft mengandalkan media sosial untuk memperluas jangkauan pasar. Tren penggunaan material alami untuk kebutuhan dekorasi turut mendorong peningkatan permintaan.
Meski demikian, keterbatasan kapasitas produksi masih menjadi tantangan, terutama dalam memenuhi pesanan dalam jumlah besar dan waktu singkat karena proses pengerjaan yang masih dilakukan secara manual.
Melalui partisipasinya di ajang ini, Ranu berharap masyarakat semakin memahami potensi limbah bonggol jagung sebagai bahan baku bernilai ekonomi. Ia juga membuka peluang bagi masyarakat yang ingin belajar mengolah limbah tersebut menjadi produk kerajinan.
Selain itu, dukungan dari pemerintah dinilai penting, khususnya dalam meningkatkan kapasitas produksi dan pengembangan usaha agar pemanfaatan limbah bonggol jagung dapat dilakukan secara lebih luas.
Upaya yang dilakukan Tyara Craft menunjukkan bahwa pengolahan limbah tidak hanya berdampak pada pengurangan beban lingkungan, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah ekonomi. Inovasi berbasis potensi lokal ini diharapkan dapat mendorong tumbuhnya pelaku usaha baru serta memperkuat ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan. ***










