Beranda / OBYEKTRIP / Desa Wisata Ngidam Muncar, Kehangatan Warga di Tengah Hamparan Sawah

Desa Wisata Ngidam Muncar, Kehangatan Warga di Tengah Hamparan Sawah

KABUPATEN SEMARANG, obyektif.tv – Hamparan sawah hijau membentang luas menyelimuti Desa Wisata Ngidam Muncar, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang. Semilir angin yang berembus di antara padi, aliran Sungai Serang yang masih jernih, serta deretan rumah-rumah warga yang tetap mempertahankan keaslian pedesaan menghadirkan suasana tenang yang sulit ditemukan di perkotaan.

Namun, bagi masyarakat Muncar, keindahan alam hanyalah awal dari cerita. Daya tarik sesungguhnya justru terletak pada kehidupan warganya yang masih menjaga tradisi, gotong royong, serta budaya lokal sebagai bagian dari pengalaman wisata.

Desa Wisata Ngidam Muncar resmi ditetapkan melalui Surat Keputusan Bupati Semarang pada 10 September 2020. Gagasan tersebut berawal dari visi Kepala Desa Muncar sejak akhir 2019 yang melihat besarnya potensi desa untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat.

Ketua Pokdarwis Ki Ageng Serang, Enggan Fabiyanto, mengatakan Desa Muncar memiliki enam dusun dengan karakter dan potensi yang berbeda-beda sehingga saling melengkapi menjadi satu kesatuan destinasi wisata.

Dusun Muncar atau Krajan dikenal dengan kesenian karawitan Cindelaras. Dusun Ledok berkembang sebagai dusun religi karena menjadi cikal bakal berdirinya Desa Muncar. Dusun Dukuhsari menjadi sentra kuliner dan UMKM, sementara Dusun Jaten dikenal dengan tanaman bunga telang dan berbagai tanaman obat keluarga.

Pengalaman belajar gamelan di paket Live in Desa Wisata Ngidam Muncar. (Dokumentasi April 2026).

Di Dusun Nglarangan, berbagai kesenian tradisional masih lestari, mulai dari karawitan, kuda kepang hingga Langen Turonggo Jati. Sementara Dusun Pareyan dipersiapkan sebagai kawasan homestay karena memiliki rumah-rumah warga yang masih autentik dengan pemandangan persawahan yang asri.

“Semua potensi itu kami rangkum, kemudian kami kemas menjadi berbagai paket wisata agar bisa memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Enggan, Rabu (15/7/2026).

Berangkat dari potensi alam dan budaya tersebut, Pokdarwis Ki Ageng Serang yang beranggotakan sekitar 15 hingga 20 pemuda desa mengembangkan beragam aktivitas wisata edukatif.

Salah satunya adalah river tubing di Sungai Serang yang menawarkan pengalaman menyusuri sungai menggunakan ban lengkap dengan perlengkapan keselamatan. Selain itu, wisatawan juga diajak belajar bertani langsung bersama petani setempat, mulai dari mengenal proses pengolahan lahan hingga menanam padi.

Menurut Enggan, pengalaman tersebut menjadi media edukasi agar wisatawan memahami panjangnya proses menghasilkan sebutir nasi yang setiap hari dikonsumsi.

Tak hanya itu, wisatawan juga dapat bermain air di sungai, mengikuti permainan tradisional seperti egrang, bakiak, ketapel, hingga belajar membuat kerajinan janur, membatik motif khas Ki Ageng Serang maupun batik ecoprint berbahan daun.

Malam harinya, suasana desa berubah menjadi ruang belajar budaya. Wisatawan diajak memainkan gamelan, belajar karawitan, hingga menari bersama warga sebelum akhirnya tampil dalam pertunjukan seni pada malam puncak kegiatan.

Pengalaman belajar menari di paket Live in Desa Wisata Ngidam Muncar. (Dokumentasi April 2026).

Seluruh aktivitas tersebut menjadi bagian dari paket unggulan Live In, program wisata selama lima hari empat malam yang mengajak peserta tinggal bersama keluarga angkat di rumah-rumah warga.

Dalam program ini, wisatawan tidak hanya menginap, tetapi juga menjalani kehidupan layaknya masyarakat desa. Mereka makan bersama keluarga tuan rumah, membantu aktivitas sehari-hari, hingga mengikuti berbagai kegiatan sosial dan budaya yang menjadi keseharian warga.

Bagi Enggan, konsep tinggal bersama masyarakat merupakan cara paling efektif memperkenalkan nilai-nilai kehidupan desa yang sederhana, hangat, dan penuh kebersamaan.

Selain pengalaman wisata, Ngidam Muncar juga mengangkat produk-produk lokal sebagai bagian dari identitas desa.

Teh bunga telang menjadi minuman khas yang selalu disajikan sebagai welcome drink bagi tamu. Aneka makanan tradisional seperti singkong, ubi rebus, jagung rebus, wedang jahe, hingga wedang serai turut melengkapi sajian khas pedesaan.

Di sektor ekonomi kreatif, masyarakat juga mengembangkan Batik Ki Ageng Serang sebagai cendera mata bagi wisatawan yang berkunjung.

Kesenian tradisional pun tetap menjadi bagian penting dalam setiap penyambutan tamu. Tari penyambutan, karawitan, kuda kepang, Rodar atau Angguk, hingga Langen Turonggo Jati rutin dipentaskan, terutama saat kunjungan rombongan maupun kegiatan Live In.

Meski terus berkembang, pengelolaan desa wisata masih menghadapi sejumlah tantangan. Keterbatasan modal untuk melengkapi fasilitas menjadi salah satu kendala utama. Selain itu, sebagian besar pengelola merupakan relawan yang memiliki pekerjaan utama sehingga kebutuhan sumber daya manusia masih menjadi pekerjaan rumah.

Di sisi lain, dukungan Pemerintah Kabupaten Semarang dinilai cukup besar. Desa Wisata Ngidam Muncar telah menerima bantuan pembangunan panggung budaya senilai Rp100 juta serta berbagai pelatihan mengenai pengelolaan desa wisata, digital marketing, kepemanduan wisata hingga promosi destinasi.

Menurut Enggan, kolaborasi antara pemerintah dan pelaku wisata menjadi kunci dalam mengembangkan desa wisata agar mampu menjangkau lebih banyak wisatawan.

Harapan terbesar yang ingin diwujudkan bukan sekadar meningkatkan jumlah kunjungan, melainkan menjadikan desa wisata sebagai penggerak kesejahteraan masyarakat sekaligus ruang belajar bagi pelajar, mahasiswa, instansi, maupun masyarakat umum yang ingin mengenal kehidupan pedesaan.

Pengalaman pentas bagi wisatawan di malam puncak kegiatan paket Live in Desa Wisata Ngidam Muncar. (Dokumentasi April 2026).

Menariknya, kesan yang paling sering disampaikan wisatawan setelah berkunjung bukanlah soal kemegahan fasilitas ataupun keindahan bangunan.

“Mereka bilang datang ke Muncar bukan karena tempatnya paling bagus atau fasilitasnya paling lengkap. Yang paling mereka ingat justru keramahan warga, hangatnya suasana desa, gotong royong masyarakat, dan makanan tradisional yang enak,” tutur Enggan.

Di tengah derasnya perkembangan destinasi wisata modern, Ngidam Muncar memilih mempertahankan apa yang paling berharga: keaslian desa dan ketulusan warganya. Sebab di tempat ini, wisata bukan hanya tentang menikmati pemandangan, tetapi juga merasakan hangatnya kehidupan masyarakat yang masih menjaga nilai-nilai kebersamaan sebagai warisan budaya yang hidup hingga hari ini. ***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *