YOGYAKARTA, obyektif.tv – Fenomena judi online masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Tidak hanya berdampak pada aspek sosial dan ekonomi, praktik perjudian berbasis digital juga mulai merambah lingkungan pendidikan dan berpotensi memengaruhi pelajar serta mahasiswa.
Kemudahan akses internet dan layanan digital membuat aktivitas judi online semakin mudah dijangkau berbagai kelompok usia. Kondisi tersebut mendorong perlunya upaya pencegahan yang tidak hanya berorientasi pada pembatasan akses, tetapi juga menyasar aspek edukasi dan kemampuan individu dalam mengendalikan dorongan untuk berjudi.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) 2024, sekitar 960 ribu pemain judi online berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa, dengan jumlah yang didominasi mahasiswa.
Sementara itu, data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) 2025 mencatat pemain berusia 17-19 tahun melakukan deposit mencapai Rp47,9 miliar pada kuartal I 2025.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan judi online telah menyentuh kelompok usia muda yang berada dalam lingkungan pendidikan. Dampaknya pun tidak sebatas persoalan finansial, tetapi dapat berpengaruh terhadap konsentrasi belajar, produktivitas akademik, serta hubungan sosial.
Berangkat dari persoalan tersebut, sekelompok mahasiswa Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) mengembangkan inovasi berbasis artificial intelligence (AI) untuk membantu mencegah akses terhadap situs judi online.
Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) 2026 dan diberi nama Gamblock-AI.

Tim Gamblock-AI dipimpin Alfian Gading Saputra dari Program Studi Informatika. Ia didampingi Dery Wahyu Perdana dan Nasywa Nurhaliza Prasetyo dari program studi yang sama, serta Suci Maisaa dari Program Studi Psikologi. Tim tersebut mendapat pendampingan dari dosen Moh. Ali Romli.
Alfian mengatakan Gamblock-AI dirancang tidak sekadar menjadi sistem pemblokiran situs judi online. Tim juga memasukkan pendekatan psikoedukasi agar pengguna mendapatkan pemahaman mengenai risiko perjudian sekaligus memperoleh dukungan untuk meningkatkan kemampuan regulasi diri.
“Kami ingin Gamblock-AI tidak hanya menjadi sistem yang sekadar memblokir akses ke situs judi online, tetapi juga dapat membantu pengguna memahami bahaya dan dampak dari perilaku judi online,” ujar Alfian, Selasa (1/9/2026).
Menurut dia, pendekatan tersebut menjadi bagian penting karena pencegahan judi online tidak cukup dilakukan dengan membatasi akses. Pengguna juga perlu memahami perilakunya dan membangun kemampuan untuk mengendalikan dorongan mengakses situs perjudian.
“Karena itu, kami melengkapi sistem dengan laman web psikoedukasi yang memberikan informasi edukatif sekaligus mendukung kemampuan self-regulation pengguna,” katanya.
Secara teknis, Gamblock-AI dikembangkan sebagai sistem multiplatform yang dapat digunakan pada perangkat Android dan Windows. Sistem tersebut memanfaatkan data URL dan teks halaman untuk membangun model Logistic Regression serta Rule-Based System.
Dalam proses pengembangannya, tim mengolah 12.964 baris data mentah menjadi 12.960 baris data bersih. Dari jumlah tersebut, sebanyak 10.368 baris digunakan sebagai data latih dan 2.592 baris sebagai data uji akhir.
Tim juga melakukan validasi tuning menggunakan 2.704 baris data sebelum model akhir dilatih ulang menggunakan seluruh data latih. Kedua metode kemudian diintegrasikan melalui Hybrid Analysis dan dikonversi menjadi model ONNX dengan ukuran kurang dari 5 MB.

Pengujian sistem dilakukan pada 19 Agustus 2026 di UTY Creative Hub, Universitas Teknologi Yogyakarta. Kegiatan tersebut dipimpin Suci Maisaa sebagai ketua pelaksana dan melibatkan sembilan mahasiswa UTY sebagai peserta.
Rangkaian pengujian mencakup instalasi aplikasi, penjelasan mekanisme sistem, hingga pengujian berbagai fitur yang terdapat dalam Gamblock-AI.
Saat ini, tim telah berhasil mengembangkan aplikasi perlindungan untuk perangkat Android dan Windows serta laman web pemulihan. Seluruh komponen tersebut kemudian diintegrasikan untuk membentuk alur deteksi, pembatasan akses, pattern interrupt, pemulihan, hingga layanan pendampingan.
Serangkaian pengujian juga telah dilakukan untuk memastikan setiap fitur berjalan sesuai dengan fungsi yang dirancang. Hasil pengujian tersebut menjadi dasar bagi tim untuk melakukan penyempurnaan sebelum Gamblock-AI dikembangkan lebih lanjut sebagai prototipe pencegahan judi online.
Melalui inovasi tersebut, Gamblock-AI diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam menghadapi maraknya judi online, khususnya di kalangan usia muda.
Perpaduan teknologi AI dengan pendekatan psikoedukatif menjadi pembeda utama sistem tersebut. Selain mengenali dan membatasi akses terhadap situs yang terindikasi sebagai judi online, Gamblock-AI juga memberikan ruang bagi pengguna untuk memahami risiko perjudian dan membangun kemampuan regulasi diri.
Dengan pendekatan tersebut, pencegahan tidak berhenti pada pemblokiran akses. Gamblock-AI diarahkan untuk turut membangun kesadaran pengguna agar mampu mengenali risiko perjudian dan secara bertahap mengendalikan dorongan untuk mengakses judi online. ***






