Beranda / REGIONAL / Samuel Wattimena Dorong Masyarakat Waspadai Dampak El Niño 2026

Samuel Wattimena Dorong Masyarakat Waspadai Dampak El Niño 2026

SEMARANG, obyektif.tv – Potensi menguatnya fenomena El Nino pada 2026 menjadi perhatian Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Samuel Wattimena. Ia mendorong kader partai, khususnya Pengurus Anak Cabang (PAC), untuk terus menyampaikan edukasi kepada masyarakat terkait ancaman kekeringan dan krisis air yang dapat terjadi akibat fenomena tersebut.

Menurut Samuel, informasi mengenai potensi El Nino harus disampaikan secara berkelanjutan agar masyarakat, terutama kelompok masyarakat kecil, memiliki kesiapan menghadapi perubahan kondisi cuaca.

“Karena kita ini adalah partai yang pro wong cilik. Wong cilik ini harus terus-menerus diinformasikan sehingga ada sense of critical-nya di situ, harus terbaru,” ujar Samuel, Rabu (5/7/2026).

Ia mengingatkan, masyarakat tidak boleh menganggap ketersediaan air sebagai sesuatu yang selalu aman. Dalam kondisi normal, air bersih mungkin mudah diperoleh dan bahkan sering digunakan tanpa banyak pertimbangan. Namun, situasi dapat berubah apabila kekeringan terjadi dalam skala luas.

“Kalau benar-benar kita kena hit dari El Nino ini, air bersih susah. Belum tentu air di kamar mandi nyala karena sumur-sumur kering,” katanya.

Samuel juga menyoroti perubahan kondisi sumber air yang menurutnya perlu menjadi perhatian bersama. Ia menyebut, kondisi sejumlah aliran sungai yang mulai mengalami penyusutan menjadi salah satu tanda yang harus diantisipasi.

Kekhawatiran tersebut semakin relevan karena El Nino berpotensi memengaruhi pola cuaca Indonesia sepanjang 2026. Berdasarkan data yang dihimpun, fenomena ini diproyeksikan menguat pada pertengahan 2026 dan dapat bertahan hingga awal 2027. Puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September 2026.

El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik yang dapat mengurangi pembentukan awan hujan di Indonesia. Kondisi tersebut berpotensi membuat cuaca menjadi lebih panas dan kering serta menyebabkan curah hujan berada di bawah normal.

Samuel menilai masyarakat perlu memahami bahwa dampak El Nino tidak berhenti pada berkurangnya curah hujan. Kekeringan yang berkepanjangan dapat berkembang menjadi persoalan ketersediaan air, mengganggu sektor pertanian, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, hingga memberikan tekanan terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

Sejumlah catatan historis menunjukkan dampak El Nino terhadap Indonesia telah terjadi berulang kali. El Nino kuat pada 1982–1983, misalnya, turut memicu kekeringan dan kebakaran hutan. Dampak serupa kembali terjadi pada periode 1997–1998 ketika El Nino berada pada kategori sangat kuat dan menyebabkan kekeringan ekstrem, kebakaran hutan dan lahan, serta kabut asap lintas negara.

Dampak besar juga tercatat pada 2015–2016. El Nino yang sangat kuat saat itu menyebabkan kekeringan dan memberikan tekanan terhadap pertanian, produksi pangan serta ketersediaan air. Sementara pada 2023–2024, El Nino kuat kembali menyebabkan kemarau panjang, meningkatkan risiko karhutla dan berdampak terhadap produksi pertanian.

Memasuki 2026, sejumlah wilayah di Jawa Tengah perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan. Kendal, Kota Semarang, Kabupaten Semarang dan Salatiga menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian karena penurunan curah hujan dapat berpengaruh terhadap ketersediaan air.

Selain kekeringan, dampak yang perlu diantisipasi meliputi penurunan produksi pertanian, gagal panen, meningkatnya risiko kebakaran lahan, gangguan kesehatan akibat cuaca panas seperti dehidrasi dan heatstroke, hingga potensi kenaikan harga pangan.

Karena itu, masyarakat didorong melakukan langkah antisipasi sejak dini. Penghematan air menjadi salah satu upaya paling sederhana yang dapat dilakukan. Air yang tersedia perlu digunakan secara bijak, sementara penyimpanan cadangan air juga penting dilakukan di wilayah yang memiliki risiko kekeringan.

Di sektor pertanian, perbaikan sistem irigasi, penggunaan varietas tanaman tahan kering, serta penerapan irigasi tetes dapat membantu meningkatkan efisiensi penggunaan air. Pembangunan embung dan waduk, pompanisasi, serta penyediaan benih tahan kekeringan juga menjadi bagian dari upaya menghadapi dampak El Nino.

Pencegahan kebakaran lahan juga harus diperkuat. Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran secara sembarangan dan bersama-sama menjaga lingkungan, terutama ketika kondisi cuaca menjadi lebih panas dan kering.

Sejumlah langkah lain yang dapat ditempuh antara lain daur ulang air, pembatasan penggunaan air, desalinasi untuk mengolah air laut menjadi air tawar, serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sesuai kebutuhan dan kebijakan pemerintah.

Dari sisi kesehatan, masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan selama periode cuaca panas. Kebutuhan cairan harus dipenuhi dengan cukup minum air putih. Aktivitas fisik berat di bawah terik matahari sebaiknya dikurangi, disertai konsumsi makanan bergizi seperti buah dan sayuran.

Masyarakat juga perlu membatasi konsumsi makanan tinggi garam, gorengan secara berlebihan, minuman terlalu manis serta minuman berkafein secara berlebihan karena dapat memperburuk kondisi tubuh ketika cuaca sangat panas.

Samuel menegaskan, kesiapsiagaan menghadapi El Nino tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Pemerintah memiliki peran dalam penyediaan kebijakan dan infrastruktur, sementara DPR RI menjalankan fungsi pengawasan serta menyerap aspirasi masyarakat.

Di tingkat akar rumput, kader dan relawan dapat mengambil peran melalui edukasi dan kegiatan gotong royong. Sementara masyarakat dapat berkontribusi dengan menghemat air, menjaga lingkungan dan mempersiapkan kebutuhan dasar menghadapi kemungkinan kekeringan.

“Tim saya sudah bantu buatkan imbauan yang harus terus kita informasikan terus-menerus,” ujar Samuel.

Ia berharap penyampaian informasi mengenai El Nino dilakukan secara konsisten sehingga masyarakat tidak baru bergerak ketika dampak kekeringan sudah terjadi. Kesiapsiagaan sejak dini dinilai penting untuk mengurangi risiko terhadap ketersediaan air, pangan, kesehatan dan aktivitas ekonomi masyarakat. ***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *