Beranda / NEWS / Sastra Lokal Penangkal Intoleransi: UIN Walisongo dan Dewan Pendidikan Kalbar Validasi Rekonstruksi Cerita Rakyat

Sastra Lokal Penangkal Intoleransi: UIN Walisongo dan Dewan Pendidikan Kalbar Validasi Rekonstruksi Cerita Rakyat

JURNALIS/EDITOR: Dwi Roma | PONTIANAK | obyektif.tv

LANGKAH strategis dalam membentengi generasi muda dari potensi intoleransi kembali ditegaskan melalui sinergi akademis.

Tim Peneliti dari Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menggelar kunjungan kerja sekaligus “Forum Rembuk Pakar” bersama Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), di Kota Pontianak, Rabu (29/7/2026).

“Forum Rembuk Pakar” bersama Tim Peneliti UIN Walisongo Semarang dan Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat.

Pertemuan ini berfokus pada pengujian dan validasi produk penelitian bertajuk “Rekonstruksi Cerita Rakyat untuk Mitigasi Intoleransi Siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI)”.

Sambutan hangat disampaikan Ketua Dewan Pendidikan Kalbar, Prof Dr Martono MPd. Ia menegaskan bahwa kolaborasi lintas lembaga dalam memitigasi konflik intoleran sangat mutlak diperlukan.

Menurutnya, akademisi diharapkan mampu menghadirkan strategi nyata yang dapat langsung diimplementasikan oleh para regulator dan praktisi pendidikan.

Ketua Tim Peneliti UIN Walisongo, Prof Dr Syamsul Ma’arif MAg, menjelaskan bahwa pelibatan Dewan Pendidikan di wilayah Kalbar yang multietnik menjadi kunci untuk memastikan materi cerita rakyat aman dari bias kultural.

“Cerita rakyat memiliki daya pikat yang kuat bagi anak-anak MI. Namun, beberapa narasi lama kerap kali memuat stereotip yang kurang pas jika diserap tanpa pendampingan. Melalui rekonstruksi ini, kami menyisipkan pesan perdamaian dan penghargaan atas perbedaan. Validasi dari Dewan Pendidikan Kalbar krusial untuk memastikan produk tervalidasi mampu memberi kontribusi solusi atas masalah intoleran,” tegas Prof Syamsul.

Dukungan serupa datang dari Ketua Komisi Keagamaan Dewan Pendidikan Kalbar, Dr Syamsul Kurniawan. Ia menilai pendekatan etno-kurikulum berbasis khazanah lokal menjadi instrumen edukasi yang solutif guna membentengi siswa dari residu konflik masa lalu, sekaligus memperkaya kurikulum di madrasah.

Riset ini turut disupervisi oleh ahli sastra sekaligus perwakilan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah, Dr Zulfa Fahmy MPd. Ia menggarisbawahi pentingnya kontekstualisasi cerita rakyat agar pesan-pesan pencegahan intoleransi mudah dicerna oleh anak-anak usia dini.

Terlaksananya program ini tidak lepas dari dukungan pendanaan Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) melalui program MORA Air Fund, sebagai wujud komitmen pemerintah mendorong inovasi pembelajaran berbasis moderasi beragama.

Anggota tim peneliti, Dr Citra Rizky Lestari, menambahkan bahwa seluruh masukan dan catatan evaluasi dari proses validasi di Kalimantan Barat ini akan digunakan untuk menyempurnakan finalisasi dua buku panduan, sebelum nantinya diuji coba secara lebih luas sebagai bahan ajar pendukung di tingkat MI.***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *