Beranda / REGIONAL / DEMAK / Pemprov Jateng Salurkan Rp 236,9 Juta untuk Pengungsi Banjir Demak

Pemprov Jateng Salurkan Rp 236,9 Juta untuk Pengungsi Banjir Demak

DEMAK, obyektif.tv – Suasana posko pengungsian di Kantor Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, masih dipadati warga hingga Sabtu (4/4/2026). Para pengungsi yang terdiri dari perempuan, anak-anak, hingga lansia bertahan dengan kondisi seadanya setelah rumah mereka terdampak banjir.

Sebagian warga beristirahat di dalam gedung dengan alas darurat, sementara lainnya memilih bertahan di teras sambil menunggu kondisi rumah membaik seiring mulai surutnya air.

Salah satu pengungsi, Masusmiyati, mengaku panik saat tanggul Sungai Tuntang jebol. Air disebut datang tiba-tiba dengan arus sangat deras, sementara rumahnya berada tidak jauh dari lokasi kejadian.

“Saya panik saat tanggul jebol. Air tiba-tiba mengalir sangat kencang dan deras. Rumah saya juga cukup dekat,” ujarnya.

Meski demikian, ia menyebut kondisi di pengungsian saat ini sudah membaik. Ia juga mengapresiasi pelayanan yang diberikan petugas di lokasi.

“Pelayanan di sini tidak mengecewakan. Fasilitasnya baik, petugasnya bertanggung jawab dan perhatian. Kami juga diberi kasur, jadi bisa tidur dengan nyaman,” katanya.

Banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Tuntang berdampak pada delapan desa di empat kecamatan, yakni Guntur, Karangtengah, Wonosalam, dan Kebonagung. Jumlah warga yang mengungsi tercatat mencapai 2.839 jiwa.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, meninjau langsung posko pengungsian bersama Bupati Demak Eisti’anah dan jajaran terkait. Dalam kunjungan tersebut, ia menyerahkan bantuan secara simbolis kepada para pengungsi.

Total bantuan yang disalurkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencapai Rp 236.985.411. Bantuan tersebut berasal dari berbagai organisasi perangkat daerah, di antaranya BPBD Jawa Tengah, Dinas Sosial, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, serta PMI Jawa Tengah.

Selain bantuan logistik, layanan kesehatan bagi pengungsi juga terus diintensifkan. Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD dr. Adhyatma Provinsi Jawa Tengah, Sari Widyastuti, mengungkapkan sejumlah penyakit yang kerap dialami warga selama di pengungsian.

“Penyakit yang sering muncul antara lain tekanan darah tinggi, diabetes, dan nyeri sendi,” ujarnya.

Ia menambahkan, penyakit yang berkaitan langsung dengan banjir seperti diare, batuk, dan pilek juga mulai ditemukan. Kondisi tersebut diduga dipengaruhi lingkungan serta makanan yang kurang higienis.

“Untuk itu kami lakukan pemantauan dan pengobatan di lokasi. Selanjutnya pasien disarankan rutin berobat ke puskesmas,” jelasnya.

Usai peninjauan, Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa penanganan banjir di Demak tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus komprehensif dari hulu hingga hilir.

Menurutnya, penanganan tidak boleh hanya bersifat reaktif saat banjir terjadi, tetapi harus menyentuh akar persoalan, termasuk kawasan hulu seperti Rawa Pening.

Ia juga menyoroti kondisi Sungai Tuntang yang dinilai tidak ideal, seperti adanya tanaman keras, bangunan, hingga permukiman di dalam badan sungai yang menghambat aliran air.

“Kalau tidak ditangani secara menyeluruh, masalah ini tidak akan pernah selesai,” tegasnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya pemenuhan layanan dasar bagi warga terdampak, mulai dari kebutuhan pangan, layanan kesehatan, hingga akses pendidikan selama masa pengungsian.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berencana menggelar rapat koordinasi lintas daerah bersama pemerintah kabupaten/kota di wilayah eks Karesidenan Semarang dan Pati, serta kementerian terkait, guna merumuskan langkah penanganan banjir Demak secara menyeluruh. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *