Beranda / REGIONAL / SEMARANG / Battra Supranatural Nusantara Terapkan Terapi Relaksasi hingga “Pengambilan” Batu Ginjal

Battra Supranatural Nusantara Terapkan Terapi Relaksasi hingga “Pengambilan” Batu Ginjal

SEMARANG, obyektif.tv – Praktik pengobatan tradisional yang dilakukan terapis Suwarno Jati Wibowo atau yang akrab disapa Mbah Warno menjadi salah satu metode alternatif yang menarik perhatian masyarakat. Dalam praktiknya, proses penyembuhan diawali dengan teknik relaksasi yang dikenal sebagai “gendam Jawa”.

Metode ini bertujuan menenangkan kondisi pasien agar tubuh lebih reseptif terhadap proses terapi. Melalui relaksasi tersebut, terapis mengklaim dapat lebih cepat mengidentifikasi gangguan kesehatan yang dialami pasien, baik yang bersifat medis seperti batu ginjal maupun yang diyakini berasal dari faktor nonmedis.

“Relaksasi ini membantu mempercepat penerimaan terapi oleh tubuh, sehingga proses identifikasi penyakit bisa lebih akurat dan penanganan menjadi lebih cepat,” ungkap Mbah Warno di sela-sela pengobatan, Rabu (29/4/2026).

Setelah tahap relaksasi, terapi dilanjutkan dengan proses yang disebut sebagai “pengambilan” batu ginjal. Dalam praktiknya, terapis terlebih dahulu menyemprotkan cairan yang disebut sebagai antiseptik ke area tubuh pasien, kemudian melakukan tindakan yang menyerupai pembedahan menggunakan alat seperti pisau bedah.

Pihak terapis mengklaim bahwa melalui metode tersebut, batu ginjal dapat dikeluarkan dari tubuh pasien dengan pendekatan energi supranatural, tanpa melalui prosedur medis konvensional. Mereka juga menyebutkan bahwa selama proses berlangsung, pasien tidak merasakan rasa sakit.

Namun demikian, metode tersebut tidak termasuk dalam praktik kedokteran modern yang terstandar. Masyarakat diimbau untuk tetap berhati-hati serta mengedepankan konsultasi dengan tenaga medis profesional dalam menangani penyakit, terutama yang memerlukan penanganan klinis.

Ketua Umum Battra Supranatural Nusantara, Mbah Suro (kiri), bersama terapis Mbah Warno di sela-sela pengobatan.

Sementara itu, Ketua Umum Battra Supranatural Nusantara, Agus Surawan atau Mbah Suro, menjelaskan bahwa keberadaan Battra memiliki dasar historis dan regulasi yang jelas. Ia menyebut, embrio organisasi pengobat tradisional ini mulai mendapat perhatian pemerintah sejak terbitnya regulasi dari Kementerian Kesehatan pada 2003.

“Pada saat itu, pemerintah mulai mengakomodasi keberadaan pengobat tradisional dalam satu wadah. Beragam praktik seperti akupunktur, herbal, hingga metode berbasis kebatinan masuk dalam kategori tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, tidak semua metode dapat diterima dalam ranah medis konvensional. Oleh karena itu, Battra hadir sebagai organisasi yang mewadahi praktik pengobatan tradisional, termasuk yang berbasis supranatural.

Battra resmi berdiri pada 2004 dan terus berkembang hingga mengalami penyesuaian regulasi pada 2017, seiring terbitnya kebijakan yang mengubah istilah menjadi penyehat tradisional (hattra). Meski demikian, organisasi tetap mempertahankan nama Battra Supranatural Nusantara dan memperluas perannya menjadi lembaga yang juga menyelenggarakan pelatihan serta sertifikasi tenaga ahli.

“Karena perkembangan zaman, tidak hanya praktik pengobatan, tetapi juga peningkatan kapasitas melalui pelatihan dan sertifikasi menjadi penting,” tambahnya.

Secara kelembagaan, Battra juga memiliki sistem rekomendasi bagi praktisi yang ingin membuka praktik. Rekomendasi tersebut menjadi dasar untuk memperoleh Surat Terdaftar Penyehat Tradisional (STPT), sebagai legalitas praktik bagi tenaga pengobat tradisional, setara dengan Surat Izin Praktik (SIP) bagi tenaga medis.

Hingga kini, tercatat sebanyak 474 anggota Battra telah terdaftar secara resmi. Kantor sekretariat Dewan Pimpinan Pusat Battra Supranatural Nusantara berada di kawasan Jatingaleh, Kota Semarang.

Mbah Suro menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya memiliki filosofi tersendiri, termasuk dalam penggunaan logo yang memadukan simbol kesehatan modern dan unsur budaya.

“Kami tetap mengacu pada nilai-nilai kesehatan, tetapi juga mempertimbangkan aspek spiritual dan budaya Nusantara,” pungkasnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *